Siapakah Tuhanmu, Kristus atau Uang?

siapakah tuhanmu, kristus atau uang?
Siapakah Tuhanmu, Kristus atau Uang? - Sadarkah kita bahwa Alkitab lebih banyak berbicara soal ''uang'' daripada semua hal-hal lain yang ada. itu bukan berarti bahwa semua hal lain itu tidak penting, tapi hal tersebut mengingatkan kita akan betapa dalam dan jahatnya satu perkara ini bisa menghancurkan karakter anak-anak Tuhan, tidak terkecuali siapapun, tidak ada seorang pun yang imun terhadap racunnya. tentu tidak selalu berarti bahwa uang itu selalu berarti dosa, tapi jika kita tidak hati-hati mengelolanya dan bahkan hati kita begitu condong kearahnya, maka racunnya akan menghancurkan karakter kita seluruhnya.

Tidak sedikit kita mendengar saudara kandung saling bertengkar bahkan saling menggugat dan membunuh hanya karena uang. Bahkan salah satu peristiwa dalam pelayanan Yesus sendiri, Dia diperhadapkan pada  masalah pertikaian yang berkaitan dengan hal ini (Lukas 12:13). salah satu hal penting yang dicatat Alkitab mengenai kekotoran bait suci  adalah karena uang sehingga Yesus harus menjungkir balikan  meja-meja penukar uang dan meja perdagangan didalam bait suci. Uang jugalah yang menjadi penyebab seseorang dan memperbudaknya. Ketika manusia sudah diperbudak oleh uang, maka uanglah yang akan kita layani, bukan sebaliknya. Baca juga: Melatih tubuh kita

Apa bukti bahwa seseorang telah menjadi hamba uang atau telah diperbudak olehnya, dibandingkan dengan yang memperbudak uang atau berkuasa atasnya? Seorang tuan adalah yang dilayani, yang diagungkan oleh hamba-hambanya. Ketika seorang manusia dengan tidak mengenal batasan telah begitu melayani uang, dia akan habis-habisan mengejarnya, menerobos segala rintangan, dan bahakan tidak sedikit yang rela mengorbankan segala norma dan etika demi untuk mencapainya. Coba selidiki diri kita sendiri, adakah kitapun sedang rela mengorbankan integritas kita dan menipu demi untuk mendapatkan atau meraih uang tersebut? Bukankah hal tersebut berarti uanglah yang telah menjadi tuan atas orang seperti itu? Sebab apa yang kita sembah atau kita agungkan dan kejar adalah Tuhan atas kita.

Ketika Tuhan menciptakan manusia dan segala jenis binatang baik yang dibumi, diatas bumi, dibawah bumi(air), maupun yang melata dibumi, Tuhan memberi perintah kepada manusia untuk berkuasa atas semua ciptaan tersebut. Kenyataan yang sering terjadi diantara anak-anak Tuhan sekalipun adalah kita justru dikuasai oleh ciptaan Tuhan yang lainnya. segala sesuatu mulai dikorbankan, keluarga, bahkan karakter mulai dikompromikan demi untuk melayani semua ciptaan-ciptaan tersebut yang di bumi(segala jenis usaha), dibawah bumi (segala jenis pelayanan, service bisnis,dll) bahkan yang melata di bumi(segala dosa dan kenajisan). Coba kita ambil waktu sebentar untuk melihat diri kita sendiri, adakah saya di perhamba oleh semua itu atau saya menjadi tuan atas semua itu?


Siapakah tuhanmu, Kristus atau uang
Ketika Abraham diperhadapkan kepada berkat dan kelimpahan, dia memilih untuk tidak dikuasai oleh kerakusan dan hawa nafsu. Abraham memilih bahkan untuk membiarkan Lot, keponakannya untuk terlebih dahulu memilih kearah mana dia akan pergi membawa domba-dombanya. Lot melihat tanah Sodom penuh dengan rumput hijau dan banyak airnya. Satu pilihan yang sangat rasional bagi seorang peternak. Namun sesungguhnya. pilihan Lot itu di dorong oleh emosi dan hawa nafsunya sendiri, sehingga dia mengabaikan etika dan kebenaran. Bukankah sepantasnya Abraham lah sebagai yang lebih tua dan yang telah mengajaknnya untuk sampai ke posisi tersebut untuk memilih terlebih dahulu? Inilah bukti nyata dari diperbudak oleh uang, segalanya dikorbankan demi uang. Jadi siapakah Tuhanmu, Kristus atau uang? Have a blessed day. GBU

Melatih Tubuh Kita

Melatih tubuh kita - ada 3 hal yang dilakukan oleh iblis kepada Yesus, dan jika kita perhatikan baik-baik, ternyata hal hal yang sama juga dilakukan oleh iblis kepada banyak anak  Tuhan bahkan hamba Tuhan untuk menjerat mereka. Hal yang pertama yang iblis lakukan adalah ketika Yesus baru saja berpuasa 40 malam, ketika keadaan kondisi-nya mendukung dan waktunya tepat, datanglah iblis mengusik perut Yesus. Seperti itu juga yang sering iblis lakukan kepada banyak anak-anak Tuhan, ketika waktunya tepat, kondisinya mendukung, datanglah iblis menawarkan yang betul betul kita inginkan dan butuhkan. Waspadailah hal itu.

melatih tubuh kita

Coba simak dan perhatikan lagi, pertama tama, iblis itu masuk ketika kondisi, keadaan, dan waktu yang paling tepat telah tiba, itu sebabnya Petrus dalam suratnya berkata : ''Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.'' (1 Petrus 5:8). Mengapa iblis harus berjalan keliling? Mengapa harus mencari orang yang dapat ditelan? Sebab iblis menunggu waktu dan keadaan yang paling tepat, itu sebabnya Firman Tuhan menasehati: ''Sadarlah & berjaga-jagalah!'' Dengan demikian, kita akan selalu terjaga dari kemungkinan untuk jatuh.

Sebenarnya apa yang pertama tama dicobai oleh iblis? Perut Yesus yang sedang laparkah? Atau ada rahasia lain dibalik itu? Sesungguhnya yang iblis inginkan dari Yesus adalah mengusik dan membangkitkan kedagingan-Nya. Ingat, saat Ia masih dibumi, Yesus itu 100% Tuhan, namun juga 100% manusia, dan kedagingan Yesus-lah yang ingin dibangkitkan dan ditumbuhkan oleh iblis, dan jika iblis sanggup melakukan hal tersebut, maka Yesus akan didorong dan dipimpin oleh kedagingan-Nya, bukan oleh Roh Kudus, Itu juga-lah yang sering dilakukan oleh iblis kepada anak anak Tuhan, percobaan iblis diarahkan untuk menumbuhkan kedagingan kita. Baca Juga : Ketekunan dalam tekanan

Inilah awal kejatuhan banyak anak anak Tuhan dan para hamba Tuhan, jika iblis telah mampu menumbuhkan dan membangkitkan kedagingan kita, atau jika kita gagal melatih tubuh kita untuk membawa kedagingan kita di bawah kontrol dari Roh Kudus, tidak peduli betapa luar biasanya kita diurapi Tuhan, maka iblis akan dengan mudah memporak-porandakan hidup kita. Kedagingan yang iblis munculkan adalah melalui keinginan keinginan mata, seksual, kemewahan, perasaan, dll yang bertentangan dengan Firman Tuhan, itu-lah yang perlu kita latih. Tundukan semua keinginan daging kita dibawah kuasa Roh Kudus.

Mungkinkah kita bisa menang seperti Yesus? Bukankah kita ini hanya manusia biasa, dan tidak seperti Yesus? Paulus memberikan nasehat untuk itu: ''Tetapi aku melatih tubuh ku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan injil kepada orang lain, jangan aku sendiri di tolak'' (1 Korintus 9:27). Tidak ada jalan lain, kedagingan kita harus terus dilatih untuk ditundukkan dan di kuasai sepenuhnya oleh Roh Kudus, bukan terus dituruti keinginannya. Melatih tubuh artinya belajar untuk menyangkal keinginan daging ketika keinginan tersebut muncul, agar dengan demikian, Roh Kudus-lah yang berkuasa.

Kebenaran Firman Tuhan Akan Melembutkan Hati

Kebenaran Firman Tuhan akan melembutkan hati - Sebagai orang percaya, sering kali kita mengalami pergumulan didalam  batin. Di satu sisi kita rindu untuk mengikuti semua kebenaran Firman Tuhan, akan tetapi disisi lain, ada keinginan daging yang juga didorong oleh pengaruh iblis untuk menjauhkan kita dari  kebenaran Firman Tuhan, Paulus sendiri bergumul didalam batinnya ketika dia menyatakan: "Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat." (Roma 7:19). Pergumulan didalam batin itu akan terus terjadi dan sulit dikalahkan. Namun syukur kepada Tuhan, melalui karya Roh Kudus-Nya, Tuhan memberikan kita hati yang baru, yaitu hati yang taat dan lembut. Dengan hati yang baru itulah, kita akan di mampukan untuk mengikuti kebenaran Firman Tuhan.

kebenaran firman tuhan akan melembutkan hati

Jadi sesuai kebenaran ini, tidak seorang pun dapat berjalan mengikuti kebenaran Firman Tuhan tanpa hatinya diubahkan, tanpa hatinya dilembutkan. Bukankah sering kita juga menemukan kebenaran ini, sulit sekali menginjil seseorang yang mengeraskan hatinya, sekalipun dia mungkin sudah melihat kuasa Tuhan, tapi karena hatinya masih keras, dia tidak bisa menerima kebenaran Firman Tuhan tersebut. Bahkan masalah keselamatan pun juga demikian, Firman Tuhan mengatakan :  "Bukan kamu yang memilih aku, tetapi Akulah yang memilih kamu..." (Yohanes 15:16). Bagaimana cara Tuhan memilih kita? Dengan melembutkan hati kita, memberikan kita hati yang taat. Itulah karya Roh Kudus mintalah agar Roh Kudus memenuhi isi hati kita seluruhnya.

Roh kudus yang adalah pribadi Allah sendiri itulah yang akan melembutkan hati kita dan mengajar hati kita untuk taat. Itulah cara kita mengalahkan dan menang atas dosa. Berikan tempat bagi Roh Kudus untuk menguasai dan memerintah didalam hati kita. Perlahan-lahan, karakter kristus, yang oleh Galatia 5 disebut sebagai buah roh, akan mempengaruhi dan merubah karakter kita, menjadi semakin serupa dengan Dia, Saya sering menemukan suami istri yang sudah cukup lama menikah dan bergaul karib, bukan hanya mulai mengerti satu sama lain, tapi bahasanya mulai sama, cara berpikirnya mulai sama, pandanganya terhadap beberapa hal mulai sama, bahkan anehnya lagi, raut mukanya semakin lama semakin mirip, Itu sesuatu yang saya tidak pernah bisa mengerti, tapi itu sering terjadi, sebab mereka bergaul karib cukup lama.

Kebenaran Firman Tuhan akan melembutkan hati
Sebenarnya bagaimana cara kita belajar memberikan tempat bagi Roh Kudus untuk berkarya, untuk menguasai hati kita, supaya hati kita lembut? Didalam Mat 11:29, Yesus berkata: Belajarlah dari Dia, sebab Yesus itu lemah lembut dan rendah hati. Tapi bagaimana kita belajar dari Dia? Yoh 1 menjelaskan bahwa Yesus adalah Firman, berarti jika kita secara rutin dan sungguh sungguh membaca dan merenungkan Firman Tuhan tiap-tiap hari, maka semakin lama pengaruh Roh Kudus akan semakin kuat didalam hati kita, Firman Tuhan yang kita baca dan renungkan tiap tiap hari itulah  yang akan mengajar kita. Pada akhirnya, Firman itulah yang akan melembutkan hatimu dan hatiku.

Ketekunan Dalam Tekanan

Ketekunan dalam tekanan - Ada satu peribahasa orang asing yang berkata : ''a picture speaks louder than a thousand words". "satu gambar berbicara lebih kuat daripada seribu kata-kata". Jika peribahasa itu benar, maka hari itu seperti inilah yang terjadi bagi kepala pasukan romawi. Dia tidak pernah mendengar khotbah-khotbah Yesus... dia tidak pernah menyaksikan mukjizat apapun yang pernah Yesus perbuat...  dia tidak pernah  mendengar  Yesus berdoa...tapi hari  itu dia melihat Yesus menggeliat-geliat  kesakitan di kayu salib, namun tidak sepatah kata keluhan apalagi kutukan yang keluar dari mulut-Nya. Kepala pasukan Romawi yang bertugas untuk mengawal dan menyalibkan Yesus itu melihat semua pemandangan itu dengan jelas, kemudian dia menarik satu kesimpulan: ''sungguh, orang ini adalah orang benar''

ketekunan dalam tekanan

Kesimpulan yang di ambil oleh kepala pasukan Romawi yang memuliakan Allah sambil berkata: "Sungguh, orang ini adalah orang benar!", itu terjadi bukan pada saat dia melihat Yesus sedang dielu-elukan, namun pada saat Yesus mengalami kesengsaraan. Hal yang sama juga sesungguhnya terjadi bagi kita masing-masing. Sesungguhnya, orang disekitar kita akan dapat melihat Allah melalui kita dan memuliakan-Nya. Ketika mereka melihat kita melalui lembah air mata, ketika kita tetap bertekun menghadapi kesengsaraan, ketika pada waktu kekurangan, waktu kesakitan, namun kita tetap memegang teguh iman percaya kita, pada saat tidak ada alasan untuk tetap setia, pada saat itulah mulut orang akan memuliakan Allah karena melihat proses yang kita alami.

Kesaksian kita yang paling efektif bukanlah dengan kata-kata yang indah, atau dengan kata-kata yang penuh kharisma, namun ketekunan dalam tekanan penderitaan itulah kesaksian sejati. Orang yang tidak pernah mendengar firman Tuhan seperti kepala pasukan Romawi sekalipun, ketika melihat ketekunan dan kerelaan Kristus yang menakjubkan, langsung memuliakan Allah. Penyebab banyak orang percaya sulit untuk bertekun didalam tekanan atau penderitaan adalah karena kita menganggap bahwa kita tidak pantas menerima semua itu. Kita merasa seharusnya mendapatkan perlakuan yang lebih baik, lebih adil, lebih bijaksana dan lain sebagainya.

Ketekunan dalam tekanan
Namun bagi Yesus, tidaklah demikian, bagi-Nya adalah ; "Ia dihina dan dihindari orang,... Ia biasa menderita kesakitan; Ia sangat dihina,... Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggung-Nya, dan kesengsaraan kita yang dipikul-Nya, padahal kita mengira Dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah." Yesaya (53:3-4). Lihat, bukan kesalahan-Nya namun kesalahan kita yang membuat Dia menderita sengsara, namun Dia tetap tekun, dan Dia tidak membela diri-Nya sendiri, itulah yang mendatangkan kemuliaan Allah. Tetaplah bersyukur, semua ada dalam rencana Allah. semua itu akan mendatangkan kemuliaan bagi nama Tuhan. Haleluyah!

Belajarlah Hidup Bagi Orang Lain

Belajarlah hidup bagi orang lain - Salah satu ayat Firman Tuhan yang dari waktu ke waktu mengingatkan dan menguatkan saya untuk ''keep on going -tetap maju'' Ada waktu waktu-waktu dimana kedagingan saya, yang saya percaya mendapatkan input dari Iblis, mengatakan: ''buat apa kamu melakukan semua ini?'' "Apa untungnya bagi dirimu sendiri?"  "Apakah tidak ada orang lain yang bisa mengerjakan itu semua?" suara-suara didalam hati seperti ini terus terang sering mengintimidasi anak-anak Tuhan untuk berhenti melayani Tuhan dan sesama atau untuk melakukan kebenaran Firman Tuhan. Kita merasa tidak ada perlunya melakukan semua itu, sebab semuanya sia-sia belaka. Disinilah akan nyata dengan jelas antara orang-orang yang mengerti panggilannya, mengenal Allahnya dan setia akan tujuan hidupnya dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki tujuan lain selain dirinya sendiri.

hidup bagi orang lain

Hellen Keller, seorang buta yang berhasil meraih gelar sarjana dengan luar biasa, seorang penulis banyak buku, seorang politisi dan pendiri dari satu organisasi yang bernama: "American Foundation for the Blind". Tidak sedikit tulisannya yang menduduki best seller list, namanya begitu meroket. Namun sangat sedikit yang mengenal nama Anne Sullivan, Anne Sullivanlah yang bertugas sebagai pengasuh Hellen Keller sejak kecil. Pada menjelang akhir hidupnya, Sullivan menjadi buta, dan tidak lagi mampu mendidik Keller. Tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa tanpa pelayanan Anne Sullivan, tidak akan tercipta seorang Hellen Keller. Sullivan bisa saja berkata, biarkan orang lain saja yang mengasuhnya, tapi dia tahu persis tujuan hidupnya. Saya berandai-andai, apa yang Tuhan akan katakan kepada Anne Sullivan di surga nanti? Mungkin "baik kerjamu hai hamba yang baik & setia..."

Hidup akan menjadi begitu sempit dan tidak berarti seandainya semua kerja keras dan hasil dari hidup kita ini hanya sekedar untuk diri kita sendiri. Sebaliknya, hidup yang berarti adalah hidup yang juga bisa disyukuri oleh orang lain yang telah mengecap dan merasakan betapa manisnya, betapa berartinya hidup kita bagi orang lain yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengan kita. Inilah cara Tuhan bekerja memberkati dan memberikan pertolongan kepada banyak orang, yaitu dengan memakai hidupmu dan hidupku untuk menjadi kepanjangan tangan-Nya. Tapi bagi kitapun, hal itu tidak akan menjadi sia-sia, sebab Dia yang telah berjanji itu setia dan adil. Akan datang waktunya, akan tiba musim panen bagi mereka yang tidak jemu-jemu berbuat baik. Lakukan semua itu seperti engkau melakukannya untuk Tuhanmu, bekerja dan berbuat baik di ladang Tuhan.

Belajarlah hidup bagi orang lain.
Melakukan pekerjaan baik ibarat seperti seorang atlet atau pelari yang tidak boleh menjadi lemah jika ingin menang dan berhasil, atau seperti seorang petani yang tidak boleh menjadi lemah atau patah semangat atau berhenti sebelum panen raya tiba. Demikian juga kita anak-anak Tuhan yang setia melayani Tuhan dan berbuat baik bagi sesama. Jangan berhenti sebelum panen raya tiba. Panen raya adalah saat petani menerima upahnya, dan bagi kita, waktu pembayaran upah adalah ketika kita kembali ke surga. Tetapkan di dalam hatimu dan hatiku untuk tetap setia, tetap tidak patah semangat ketika kita melakukan pekerjaan baik untuk Tuhan dan Raja kita. Jangan berhenti sebelum panen raya tiba.

Iman Percaya Sebagai Warisan yang Kekal

Iman percaya sebagai warisan yang kekal - Setiap orang tua yang memiliki pikiran yang sehat, pasti rindu untuk mewariskan sesuatu yang berarti bagi anak cucunya, Warisan tersebut tidak selalu berupa harta kekayaan, saya temukan justru warisan yang paling berharga yang bisa ditinggalkan orang tua bagi anak cucunya bukanlah harta kekayaan. Kita pasti sependapat bahwa nama  baik yang harum yang ditinggalkan orang tua pasti lebih berharga dari harta kekayaan. Statistik membuktikan bahwa 80% lebih  warisan harta kekayaan orang tua akan habis sebelum keturunan kedua meninggal dan tidak sampai kepada keturunan berikut. Hampir 95% lebih akan lenyap pada keturunan berikut. Jika harta kekayaan tidak dapat dijadikan sebagai warisan  yang berarti, apakah engkau dan saya telah mempersiapkan satu warisan bernilai bagi anak-anak kita?

Iman percaya

Jika harta kekayaan bukanlah warisan yang berharga, lalu bagaimana dengan pendidikan? Pendidikan tentu merupakan hal yang sangat penting untuk kita wariskan bagi anak cucu. Jika bangsa ini ingin menjadi lebih maju dan berkembang, maka anak-anak bangsa ini harus lebih berpendidikan daripada generasi sebelumnya. Namun sekali lagi, pendidikan pun tidak kekal dan bukan merupakan warisan yang paling bernilai. Saya ingin tegaskan, ternyata ''iman percaya'' adalah warisan yang paling berharga yang bisa kita teruskan, wariskan kepada anak cucu kita. Di dalam ''iman percaya'' terdapat butir-butir kekekalan, ada pengharapan, ada masa depan... jika hari ini engkau telah mengenal Kristus sebagai Tuhanmu, wariskanlah iman percaya tersebut kepada anak-anakmu dan kepada anak-anak dari anakmu.

Coba perhatikan doa Daud ini ''Ya Tuhan, Allah Abraham, Ishak dan Israel, bapa-bapa kami, peliharalah untuk selama-lamanya kecenderungan hati umat-Mu yang demikian ini dan tetaplah tujukan hati mereka kepada-Mu'' (1 Tawarikh 29:18). Sering kali didalam Alkitab, Allah Israel disebut sebagai Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, kenapa sampai harus diperjelas 3 keturunan seperti itu Apakah Allah Israel saja kurang untuk menjelaskan pribadi Tuhan? Inilah salah satu bukti penggenapan rencana Tuhan yang diajarkan Musa di Ulangan 6, yang kalau saya boleh sebutkan sebagai ''estafet iman''.Iman yang ada ada Abraham memang tidak dapat menyelamatkan Ishak, apalagi Yakub, tapi iman itu bisa di ajarkan, di wariskan kepada anak cucu Abraham, dan persis seperti itulah yang Abraham lakukan.

Jika kita sadar bahwa iman percaya kita adalah warisan termulia yang paling berharga yang bisa kita wariskan kepada anak cucu kita, kita sendiri harus sudah memiliki iman percaya tersebut sebelum kita bisa mewariskannya kepada anak-anak kita. Apakah engkau sungguh-sungguh bisa berkata secara jujur: ''... ya iman itu sudah ada padaku dan hidup dihatiku''... sama seperti pada Lois dan Eunike sehingga mereka mampu mewariskannya bagi timotius? Kita tidak mungkin bisa mewariskan sesuatu yang tidak kita miliki terlebih dahulu. Kejarlah kekokohan fondasi imanmu, ambillah kesempatan untuk meneruskan iman percayamu kepada generasi berikutnya, supaya dengan demikian, ada waktunya nanti, ketika Yesus datang kembali, Dia menemukan iman di bumi (Lukas 18:8). 

Milikilah Hati yang Bijaksana

Hati yang bijaksana
Milikilah hati yang bijaksana - Bronnie Ware adalah seorang perawat Australia yang bekerja di salah satu rumah sakit. Tugasnya adalah merawat pasien-pasien yang di vonis memiliki usia tinggal 3 bulan atau kurang. Selama merawat pasien-pasien yang memiliki usia tinggal hitungan hari tersebut, Bronnie melihat begitu banyak penyesalan akan waktu yang hilang sia-sia. Sebagian besar dari mereka yang divonis hidup hanya beberapa bulan lagi menyatakan seandainya mereka bisa mengulangi waktu hidupnya, mereka ingin  mengisinya dengan  hidup yang lebih berguna bagi Tuhan dan sesama, lebih banyak waktu bersama keluarga dan orang yang mereka kasihi, mereka menyesal telah menghabiskan waktunya dengan sia-sia. Ketika saat-saat terakhir dari hidup kita, adakah penyesalan akan waktu yang terbuang sia-sia?

Menurut kesimpulan yang Bronnie Ware tuliskan, tidak seorang pun dari pasien yang divonis beberapa bulan lagi tersebut yang merindukan untuk seandainya saja... maka saya akan bekerja dan mengumpulkan uang lebih banyak lagi,... atau mengusahakan posisi kekuasaan lebih tinggi lagi... atau mengejar karier dan cita-cita lebih tinggi lagi... ini adalah sifat manusiawi, ingin lebih kaya lagi, lalu setelah kaya, ingin berkuasa dan memiliki jabatan tinggi, untuk apa? Supaya dengan jabatan dan kekuasaan itu, mereka bisa lebih kaya lagi, Orang yang hidupnya tinggal hitungan hari, sadar bahwa hal-hal itu ternyata sia-sia, sebaliknya hampir semua pasien tersebut merindukan untuk mengisi waktu hidupnya untuk hal-hal yang lebih berguna, lebih banyak waktu dengan keluarga. Jika kita sadar hal itu, kenapa harus menunggu sampai hidup kita tinggal beberapa bulan lagi? Kenapa tidak kita isi dengan benar sejak sekarang?

Menyadari bahwa hidup ini tidak kekal, hati yang bijaksana akan mengajar kita untuk mengisi hidup yang tidak kekal ini dengan nilai-nilai kekekalan. Oscar Schindler, seorang petinggi pemerintahan Nazi Hitler yang menyelamatkan ratusan bahkan hampir ribuan orang-orang Yahudi pada saat perang dunia ke-2 pecah di Eropa, yang kisah hidupnya pernah diangkat ke layar lebar yang berjudul ''Schindler's list'', saat Nazi sudah dikalahkan, dan karena jabatannya di pemerintahan Nazi, tetap harus dibawa ke pengadilan Internasional, menyatakan : ''seandainya saja saya masih memiliki waktu, saya akan selamatkan lebih banyak orang-orang Yahudi supaya mereka tidak perlu mati sia sia, seandainya saja saya sempat menjual beberapa milik saya ini, tentu uangnya bisa dipakai untuk menyelamatkan anak-anak yatim dari kehilangan orang tuanya''. Seperti itulah hati yang bijaksana.

Mazmur Musa telah mengajarkan kepada kita satu kebenaran yang tidak pernah kadaluarsa sepanjang zaman, kebenaran tentang rahasia memperoleh hati yang bijaksana. Dengan belajar menghitung hari-hari di hidup ini, maka kita akan dibuat sadar bahwa setiap hari yang kita lalui itu berarti satu hari lagi lebih dekat dengan akhir hidup ini. Jika hari-hari yang kita lalui itu berarti  hari kita semakin pendek, dan semakin dekat dengan hari pertemuan dengan Sang Pencipta, akankah kita terus bermain main dengan hidup yang sangat singkat ini? Atau sebaliknya kita akan lebih berhati-hati dalam menjalani hidup ini? Demikianlah rahasia untuk memperoleh hati yang bijaksana, kebijaksanaan tumbuh ketika kita sadar bahwa hidup ini ada akhirnya, ada ujungnya, dan bahkan ternyata ujungnya sangat singkat, kebijaksanaan akan mendorong kita untuk melakukan yang mulia dan benar.

Jauhi Dosa dan Hiduplah Bijaksana

Jauhi dosa dan hiduplah bijaksana - kekayaan yang diperoleh dengan mudah, seringkali habis dengan mudah. Tapi ada satu bahaya lain yang lebih berbahaya, kekayaan yang diperoleh oleh orang yang karakternya kerdil, akan mudah lenyap, sebab orang yang kerdil karakternya atau picik, akan mudah lenyap, sebab orang yang kerdil karakternya atau picik, akan mudah tergoda untuk memfoya-foyakan semua berkat yang Tuhan berikan kepadanya. Mereka cenderung mengejar kesenangan diri sendiri semau-maunya, tanpa memikirkan hari esok, anak-anak mereka, apalagi orang lain.

Jauhi dosa dan hiduplah bijaksana

Dosa bukan saja akan memimpin kepada kesengsaraan selama masa hidup kita, tapi juga akan menuntun kepada kebinasaan. Kitab Amsal menasehatkan anak-anak manusia akan betapa jahatnya pengaruh dosa pelacuran, tapi juga  berlaku untuk dosa apapun juga, seperti pesta pora, perjudian, kemabukan dll, semua itu akan menuntun kepada kemelaratan yang akhirnya berujung kepada kehancuran total. Belajarlah untuk hidup bijaksana, jauhi dosa!

Kadang kita berpikir dosa itu adalah pelacuran, penggunaan obat obatan terlarang, atau perjudian, atau yang serupa itu. Sesungguhnya, kemalasan dan kerakusan itu juga salah satu bentuk dosa tidak menghargai berkat yang Tuhan berikan. Betapa banyak anak-anak orang kaya yang mendapatkan warisan tapi hidup bodoh dengan menghambur-hamburkan kekayaan warisan orang tuanya, sehingga akibatnya dia harus jatuh melarat. Secara rohani, warisan yang kita terima dari bapa Abraham adalah penebusan dan pertobatan, adakah kita masih menghambur-hamburkan kasih setia Tuhan itu?

Jauhi dosa dan hiduplah bijaksana
Kemelaratan akibat dosa pada perumpamaan anak terhilang dituliskan seperti ini: ''...di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.''(Lukas 15:13b). Secara rohani, penebusan yang Tuhan sudah buat bagi kita itu mahal harganya, dan jika kita hidup semaunya, tidak dengan penuh hormat akan kasih Tuhan, bukankah hal itu sama saja seperti anak bungsu yang memboroskan warisan orang tuanya dengan hidup berfoya-foya? Jika kita telah sadar dan tahu kebenaran, namun sengaja untuk berbuat dosa, tidakkah itu sama saja dengan berfoya-foya dengan warisan Bapa kita?

Sekarang kita sadar, dosa di pupuk dari pandangan yang salah akan penebusan yang Tuhan sudah kerjakan bagi kita, sama seperti pemborosan terjadi akibat mendapatkan uang secara gampang. Jauhi dosa dengan terus meminta Roh Kudus mengingatkan kita akan apa yang Tuhan sudah buat, sama seperti ketika kita makan roti dan minum anggur perjamuan, ''...setiap kali kamu memakannya dan meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!'' (1korintus 11:25).

Tetaplah Setia Melakukan Kebenaran

Tetaplah setia melakukan kebenaran - Banyak orang berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan, tapi tidak semua kebaikan itu kebenaran. agama pada umumnya mengajarkan manusia berbuat baik, tapi bukan saja agama, kebudayaan yang tidak bertuhan pun mengajarkan untuk saling berbuat baik. sebaliknya untuk memahami secara pasti apakah kita sedang berjalan menuju Tuhan yang adalah terang itu sendiri, kita tidak bisa melihat tindakan atau perbuatan kita. Coba perhatikan penggalan ayat ini . ''tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang,..'' Tanda yang nyata bahwa kita sedang berjalan didalam rancangan atau jalan-Nya Tuhan adalah jika kita melakukan yang benar, bukan sekedar yang baik. Tuhan memiliki tujuan dalam semua tindakan kebenaran tersebut, yaitu supaya menjadi kesaksian tentang siapa Tuhan yang kita sembah.

kebenaran

Para ayah, mungkinkah kita mematahkan tangan dan kaki anak kandung kita sendiri?... ketika seorang ayah sengaja untuk menjerumuskan dirinya ke dalam perselingkuhan, sebenarnya bukan hanya kaki dan tangan anak kita yang kita patahkan, hidup dan masa depan mereka yang sedang kita hancurkan... Para ibu, tegakah engkau membiarkan anakmu dijemur kepanasan atau kedinginan sepanjang malam? Tapi ketika langkahmu berjalan menuju perzinahan, engkau sedang mengkhianati anak-anak darah dagingmu sendiri dan meludahi Tuhanmu... Banyak dorongan dan alasan kenapa perzinahan dan perselingkuhan terkesan manis dan menyenangkan, bahkan masuk akal, namun sesungguhnya itulah dosa yang sangat menyakitkan. Sebaliknya, ''lakukanlah yang benar'', sebab itulah yang menyenangkan hati Tuhan.

Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa kita diselamatkan oleh hasil kerja kita, sebab semua itu adalah ''anugrah Tuhan'', bukan karena apa yang kita kerjakan atau lakukan. Namun Alkitab secara jelas menyatakan bahwa apa yang kita lakukan itu menunjukan kearah mana langkah dan tujuan hidup kita sebenarnya. Orang yang dikuasai kedagingannya, tindak tanduknya, perseteruan, sebab memang dirinya sendirilah tuhan bagi orang tersebut. Dia sedang menjalani pelayan atas kedagingannya sendiri. Sebaliknya jika kita hidup diwarnai ''kebenaran'', sesungguhnya Kristuslah tujuan dan arah hidup kita, sebab Kristus sendiri adalah kebenaran (Yoh 14:6), dan kita sedang datang kepada terang, yang adalah Kristus sendiri.

Tetaplah Setia Melakukan kebenaran
Hidup untuk mengerjakan apa yang benar, membutuhkan ketaatan dan kerelaan. Melakukan kebenaran sering kali akan mengalami banyak tantangan dan bahkan kerugian. ketika kita bersalah, akan jauh lebih nyaman untuk memberikan alasan dan argumentasi kenapa kita melakukan apa yang kita lakukan. Kebenaran sebaliknya akan menuntut kita untuk mengakui kesalahan, namun hal itu menyita perasaan dan membutuhkan kerendahan hati. Banyak perkara jika kita mencoba untuk merasionalisasikannya dengan pikiran kita sendiri, maka akan tampak masuk akal dan wajar untuk kita lakukan, tapi itu bukan kebenaran. Sebaliknya untuk melakukan kebenaran, dibutuhkan ketaatan total sebab jika tidak demikian, kita akan menemukan begitu banyak pilihan lain untuk kita kerjakan yang seakan lebih menguntungkan dan lebih baik.

Kita mengerti bahwa semua yang Yesus lakukan adalah melakukan kebenaran, sebab Dia mengikuti semua yang Bapa nyatakan kepada-Nya. Ketika Yesus berjalan mengerjakan apa yang benar, langkah-Nya sedang menuju kepada Bapa. Dia sendiri menyatakan rahasia ini:..Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu.Sebab aku pergi kepada Bapa;'' (Yohanes 14:12). Jika kita bandingkan perkataan Yesus ini di yoh 14:12, bukankah itu persis seperti yang Yoh 3:21. Hanya dengan melakukan yang benarlah seseorang dapat dikatakan secara pasti bahwa dia sedang menuju Tuhan. Adakah engkau berjalan menuju surga atau sebaliknya? Jika menuju surga, pasti langkah hidupmu sedang mengerjakan yang benar.

Firman dan Kemuliaan Tuhan

Firman dan Kemuliaan Tuhan - Di salah satu judul bukunya When God Come Near, Max Lucado menceritakan tentang seorang yang buta sejak lahirnya yang bernama bob edens, satu ketika, seorang dokter ahli bedah mata mengoperasi kedua mata bob dalam satu proses yang sangat rumit dan sukar, namun akhirnya berhasil, Bob dengan muka berseri-seri berkata; ''engkau tidak pernah memahami betapa bersyukurnya saya karena bisa melihat...''. Hal yang sama terjadi diantara kita, Yohanes 1:14 berkata bahwa Firman itu telah ada diantara kita, dan ''kita telah melihat kemuliaan-Nya''.  Betapa sering kita datang beribadah membaca Firman Tuhan, namun apakah kita melihat kemuliaan-Nya?

Firman dan Kemuliaan

Apakah kita seperti Bob Edens yang begitu bersyukur karena dia mampu melihat yang ada di sekelilingnya, sedangkan orang lain melihat yang sama, sudah sejak hari kelahirannya, namun sukacita dan rasa syukur seperti Bob tidak dimilikinya, bukankah itu sering kita jumpai diantara kita? kita memiliki mata lengkap, kita memiliki kesehatan baik, perekonomian juga baik, setidaknya berkecukupan, mengapa kita tidak bisa bersyukur? tidakkah kita mampu melihat Kemuliaan Anak Tunggal Bapa diantara kita? Mungkin karena terlalu sering, dan terbiasa dengan kelegaan, maka kita mulai melupakan perlunya bersyukur, benarlah perkataan Daud ini: ''Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan Mu''.(Mazmur 119:71).

Bagaimana agar kita terus menerus menjaga kepekaan kita akan pandangan kita kepada Kristus yang selalu menyertai kita? Belajarlah untuk berbagi kebaikan dan kelegaan yang kita miliki dengan kekurangan dan kesulitan orang lain, dengan demikian sama seperti Kristus mampu untuk turut merasakan penderitaan kita, sebab Dia sendiri sudah menjalani perjalanan penderitaan tersebut (Ibrani 4:15), kita pun perlu belajar untuk bisa ''turut merasakan'' penderitaan orang lain. Dengan demikian maka kita akan selalu peka dan bisa merasakan pertolongan dan kebaikan Tuhan, sama seperti kebaikan Tuhan itu mengalir dan dirasakan oleh orang lain melalui kita.

Firman dan Kemuliaan Tuhan.
Yesus, yang adalah Firman yang telah menjadi manusia, ternyata tidak hanya penuh dengan kasih karunia, namun juga kebenaran. Jika hidup anak-anak Tuhan tertuju dan terfokus kepada Firman yang adalah Allah sendiri, maka manifestasinya adalah hidup di dalam kebenaran sama seperti Kristus adalah kebenaran itu sendiri, sebab di luar Dia, tidak ada kebenaran yang sesungguhnya. Sudah seharusnya anak-anak Tuhan yang mengaku hidup di dalam Dia, seharusnya juga memancarkan kebenaran dalam semua aspek kehidupannya, sebab Dia yang adalah Firman itu juga kebenaran.

Ingat! Janganlah Engkau Tamak Hati

Ingat! Janganlah engkau tamak hati - Ada seorang pengangguran berkata: seandainya aku punya uang akan kuberikan kepada Tuhan. Seorang pengusaha yang kaya raya berkata: seandainya aku punya waktu, aku akan melayani Tuhan. Seorang pemuda berkata, seandainya aku punya talenta, akan ku gunakan untuk kemuliaan Tuhan. Kerinduan mereka semua terjawab. Si pengangguran mendapatkan pekerjaan dan tentunya berkat, si pengusaha mendapatkan asisten yang terampil sehingga ada waktu, si pemuda berhasil menemukan talentanya yang luar biasa. Namun sama seperti para politisi, janji sebelum menang sering tidak ada hubungannya dengan kenyataan. Mereka semua tetap saja melupakan Tuhan. Kenapa bisa demikian? Sebab semua mereka menganggap bahwa semua yang ada adalah milik mereka, bukan Tuhan.

Para pekerja kebun anggur yang dikisahkan di matius 21 diatas juga memiliki pandangan yang keliru. Mereka beranggapan bahwa kebun itu adalah milik mereka, atau setidaknya mereka mengharapkan kebun itu jadi milik mereka. Inilah penyebab kenapa kita tidak bisa berguna bagi kerajaan Allah. Ketika kita merasa atau berharap untuk memiliki semua yang ada pada kita, saat itulah penyertaan Tuhan atas kita dan atas apa yang ada pada kita telah undur. Rindukah kita untuk melihat penyertaan Tuhan atas hidup kita? tapi siapa ''pemilik'' hidup kita yang sesungguhnya? Untuk tujuan siapa hidup kita mengalir? Apa betul untuk Tuhan, atau diri kita sendiri dengan mengatas namakan Tuhan? Berlakulah jujur terhadap kebenaran ini, sebab satu saat akan tersingkap semua.

Satu atau dua kali, mungkin kita bisa saja menipu orang disekitar kita dengan mengatakan bahwa ''Tuhan-lah pemilik hidup kita'' Kedengarannya begitu manis dan begitu rohani. Tapi hati nurani kita dan Tuhan sendiri tidak bisa dibohongi. Tindak-tandukmu sesungguhnya juga tidak bisa mengingkari kebenaran ini. Ketika manusia berpikir dan berusaha untuk memilik semua yang ada padanya sebagai seorang pemilik, bukan pengelola(steward), ujung-ujungnya , mereka akan berusaha ''membunuh Sang Ahli waris yang sesungguhnya''! Coba lihat ayat ini: ''...Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita.''(matius 21;38) Inilah akibat terburuk yang bisa terjadi atas orang orang yang merasa semua yang ada adalah miliknya sendiri. Apa yang seharusnya kita lakukan.


Ingat! Janganlah Engkau Tamak Hati
Ketamakan atas uang bisa sedemikian merusak hati dan langkah manusia. Jangan pernah menganggap remeh betapa besarnya pengaruh uang jika tidak dikelola dengan benar. Oleh akibat ''pengaruh jahat'' dari uang. ada sati kebohongan yang tersiar luas sampai ribuan tahun lamanya. Coba perhatikan satu kebenaran ini: ''mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. dan cerita ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini.''(Matius 28:15). kebohongan tentang kebangkitan Kristus pun dibungkus rapat-rapat sampai hari ini oleh banyak orang Yahudi hanya karena pengaruh dari sogokan oleh uang. Tanpa disadari, pengaruh akan kebohongan yang diakibatkan oleh cinta akan uang bisa bertahan sedemikian lama, berhati-hatilah.

Milikilah Hati yang Rela Agar Rencana Tuhan Terjadi

Miliki hati yang rela agar rencana Tuhan terjadi - Ada begitu banyak hal yang bisa kita lakukan, seandainya saja saudara dan saya rela untuk sesaat tidak sekedar melihat kepada diri sendiri, tapi kepada rencana besar surgawi. Sepanjang sejarah, ternyata kita menemukan bahwa pahlawan-pahlawan luar biasa bukanlah mereka yang memiliki ''banyak'', tapi mereka dengan hati yang rela untuk memberi.

Pada perang dunia dunia ke -2, di seluruh Eropa, sebagian besar dari orang-orang  yahudi yang berhasil di selamatkan, mereka diselamatkan oleh para petani sederhana, ibu rumah tangga sederhana yang menyembunyikan anak-anak Yahudi tersebut dan mengatakan bahwa mereka adalah anak-anak mereka sendiri, sementara ada begitu banyak orang-orang kaya dan berpengaruh, namun tidak melakukan apa-apa. Sekali lagi, rencana Tuhan tetap terjadi, melalui kita atau tidak melalui kita. Hanya hati yang rela dan siap yang akan mampu menangkap signal Tuhan ketika rencana-Nya di umumkan.


Hati yang rela

Perhatikan sekali lagi perkataan Mordekhai(Ester 4:13-14) kepada gereja Tuhan: ''...Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.'' Prinsip kedua yang juga sangat penting adalah: ''Ada yang disebut sebagai supreme goal atau tujuan agung utama bagi tiap-tiap kita, dan itu hanya terjadi satu kali seumur hidup, jika kita gagal mengenali kapan kesempatan untuk menggenapi supreme goal tersebut, maka kita akan kehilangan kesempatan emas tersebut selamanya''.

Milikilah hati yang rela agar rencana Tuhan terjadi.
Bagi setiap kita berlaku juga pernyataan Mordekhai, ''...Siapa tahu, mungkin justru untuk saat ini engkau menjadi... seorang yang terpandang, atau seorang yang sangat diberkati, atau seorang yang sangat mahir dalam satu bidang tertentu, atau sekedar ada di bangsa ini...'' Jangan pernah menganggap remeh kejadian yang berlangsung disekitar kita, karena kita tidak pernah mengetahui bahwa mungkin saja, sepanjang hidup kita di bumi, ternyata mengerucut untuk satu hal saja yang kita hadapi hari ini. Itu sebabnya pastikan hari kita masing-masing tertuju kepada Tuhan sendiri, kondisikan agar hati kita selalu lembut dan siap untuk menjalankan apa yang Tuhan rencanakan, agar kita tidak kehilangan kesempatan emas yang hanya datang sekali sepanjang umur hidup kita.


Renungan harian kristen.
Have a blessed day, GBU.


Popular Posts

Powered by Blogger.