Siapakah Tuhanmu, Kristus atau Uang?

siapakah tuhanmu, kristus atau uang?
Siapakah Tuhanmu, Kristus atau Uang? - Sadarkah kita bahwa Alkitab lebih banyak berbicara soal ''uang'' daripada semua hal-hal lain yang ada. itu bukan berarti bahwa semua hal lain itu tidak penting, tapi hal tersebut mengingatkan kita akan betapa dalam dan jahatnya satu perkara ini bisa menghancurkan karakter anak-anak Tuhan, tidak terkecuali siapapun, tidak ada seorang pun yang imun terhadap racunnya. tentu tidak selalu berarti bahwa uang itu selalu berarti dosa, tapi jika kita tidak hati-hati mengelolanya dan bahkan hati kita begitu condong kearahnya, maka racunnya akan menghancurkan karakter kita seluruhnya.

Tidak sedikit kita mendengar saudara kandung saling bertengkar bahkan saling menggugat dan membunuh hanya karena uang. Bahkan salah satu peristiwa dalam pelayanan Yesus sendiri, Dia diperhadapkan pada  masalah pertikaian yang berkaitan dengan hal ini (Lukas 12:13). salah satu hal penting yang dicatat Alkitab mengenai kekotoran bait suci  adalah karena uang sehingga Yesus harus menjungkir balikan  meja-meja penukar uang dan meja perdagangan didalam bait suci. Uang jugalah yang menjadi penyebab seseorang dan memperbudaknya. Ketika manusia sudah diperbudak oleh uang, maka uanglah yang akan kita layani, bukan sebaliknya. Baca juga: Melatih tubuh kita

Apa bukti bahwa seseorang telah menjadi hamba uang atau telah diperbudak olehnya, dibandingkan dengan yang memperbudak uang atau berkuasa atasnya? Seorang tuan adalah yang dilayani, yang diagungkan oleh hamba-hambanya. Ketika seorang manusia dengan tidak mengenal batasan telah begitu melayani uang, dia akan habis-habisan mengejarnya, menerobos segala rintangan, dan bahakan tidak sedikit yang rela mengorbankan segala norma dan etika demi untuk mencapainya. Coba selidiki diri kita sendiri, adakah kitapun sedang rela mengorbankan integritas kita dan menipu demi untuk mendapatkan atau meraih uang tersebut? Bukankah hal tersebut berarti uanglah yang telah menjadi tuan atas orang seperti itu? Sebab apa yang kita sembah atau kita agungkan dan kejar adalah Tuhan atas kita.

Ketika Tuhan menciptakan manusia dan segala jenis binatang baik yang dibumi, diatas bumi, dibawah bumi(air), maupun yang melata dibumi, Tuhan memberi perintah kepada manusia untuk berkuasa atas semua ciptaan tersebut. Kenyataan yang sering terjadi diantara anak-anak Tuhan sekalipun adalah kita justru dikuasai oleh ciptaan Tuhan yang lainnya. segala sesuatu mulai dikorbankan, keluarga, bahkan karakter mulai dikompromikan demi untuk melayani semua ciptaan-ciptaan tersebut yang di bumi(segala jenis usaha), dibawah bumi (segala jenis pelayanan, service bisnis,dll) bahkan yang melata di bumi(segala dosa dan kenajisan). Coba kita ambil waktu sebentar untuk melihat diri kita sendiri, adakah saya di perhamba oleh semua itu atau saya menjadi tuan atas semua itu?


Siapakah tuhanmu, Kristus atau uang
Ketika Abraham diperhadapkan kepada berkat dan kelimpahan, dia memilih untuk tidak dikuasai oleh kerakusan dan hawa nafsu. Abraham memilih bahkan untuk membiarkan Lot, keponakannya untuk terlebih dahulu memilih kearah mana dia akan pergi membawa domba-dombanya. Lot melihat tanah Sodom penuh dengan rumput hijau dan banyak airnya. Satu pilihan yang sangat rasional bagi seorang peternak. Namun sesungguhnya. pilihan Lot itu di dorong oleh emosi dan hawa nafsunya sendiri, sehingga dia mengabaikan etika dan kebenaran. Bukankah sepantasnya Abraham lah sebagai yang lebih tua dan yang telah mengajaknnya untuk sampai ke posisi tersebut untuk memilih terlebih dahulu? Inilah bukti nyata dari diperbudak oleh uang, segalanya dikorbankan demi uang. Jadi siapakah Tuhanmu, Kristus atau uang? Have a blessed day. GBU

Firman dan Kemuliaan Tuhan

Firman dan Kemuliaan Tuhan - Di salah satu judul bukunya When God Come Near, Max Lucado menceritakan tentang seorang yang buta sejak lahirnya yang bernama bob edens, satu ketika, seorang dokter ahli bedah mata mengoperasi kedua mata bob dalam satu proses yang sangat rumit dan sukar, namun akhirnya berhasil, Bob dengan muka berseri-seri berkata; ''engkau tidak pernah memahami betapa bersyukurnya saya karena bisa melihat...''. Hal yang sama terjadi diantara kita, Yohanes 1:14 berkata bahwa Firman itu telah ada diantara kita, dan ''kita telah melihat kemuliaan-Nya''.  Betapa sering kita datang beribadah membaca Firman Tuhan, namun apakah kita melihat kemuliaan-Nya?

Firman dan Kemuliaan

Apakah kita seperti Bob Edens yang begitu bersyukur karena dia mampu melihat yang ada di sekelilingnya, sedangkan orang lain melihat yang sama, sudah sejak hari kelahirannya, namun sukacita dan rasa syukur seperti Bob tidak dimilikinya, bukankah itu sering kita jumpai diantara kita? kita memiliki mata lengkap, kita memiliki kesehatan baik, perekonomian juga baik, setidaknya berkecukupan, mengapa kita tidak bisa bersyukur? tidakkah kita mampu melihat Kemuliaan Anak Tunggal Bapa diantara kita? Mungkin karena terlalu sering, dan terbiasa dengan kelegaan, maka kita mulai melupakan perlunya bersyukur, benarlah perkataan Daud ini: ''Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan Mu''.(Mazmur 119:71).

Bagaimana agar kita terus menerus menjaga kepekaan kita akan pandangan kita kepada Kristus yang selalu menyertai kita? Belajarlah untuk berbagi kebaikan dan kelegaan yang kita miliki dengan kekurangan dan kesulitan orang lain, dengan demikian sama seperti Kristus mampu untuk turut merasakan penderitaan kita, sebab Dia sendiri sudah menjalani perjalanan penderitaan tersebut (Ibrani 4:15), kita pun perlu belajar untuk bisa ''turut merasakan'' penderitaan orang lain. Dengan demikian maka kita akan selalu peka dan bisa merasakan pertolongan dan kebaikan Tuhan, sama seperti kebaikan Tuhan itu mengalir dan dirasakan oleh orang lain melalui kita.

Firman dan Kemuliaan Tuhan.
Yesus, yang adalah Firman yang telah menjadi manusia, ternyata tidak hanya penuh dengan kasih karunia, namun juga kebenaran. Jika hidup anak-anak Tuhan tertuju dan terfokus kepada Firman yang adalah Allah sendiri, maka manifestasinya adalah hidup di dalam kebenaran sama seperti Kristus adalah kebenaran itu sendiri, sebab di luar Dia, tidak ada kebenaran yang sesungguhnya. Sudah seharusnya anak-anak Tuhan yang mengaku hidup di dalam Dia, seharusnya juga memancarkan kebenaran dalam semua aspek kehidupannya, sebab Dia yang adalah Firman itu juga kebenaran.

Ingat! Janganlah Engkau Tamak Hati

Ingat! Janganlah engkau tamak hati - Ada seorang pengangguran berkata: seandainya aku punya uang akan kuberikan kepada Tuhan. Seorang pengusaha yang kaya raya berkata: seandainya aku punya waktu, aku akan melayani Tuhan. Seorang pemuda berkata, seandainya aku punya talenta, akan ku gunakan untuk kemuliaan Tuhan. Kerinduan mereka semua terjawab. Si pengangguran mendapatkan pekerjaan dan tentunya berkat, si pengusaha mendapatkan asisten yang terampil sehingga ada waktu, si pemuda berhasil menemukan talentanya yang luar biasa. Namun sama seperti para politisi, janji sebelum menang sering tidak ada hubungannya dengan kenyataan. Mereka semua tetap saja melupakan Tuhan. Kenapa bisa demikian? Sebab semua mereka menganggap bahwa semua yang ada adalah milik mereka, bukan Tuhan.

Para pekerja kebun anggur yang dikisahkan di matius 21 diatas juga memiliki pandangan yang keliru. Mereka beranggapan bahwa kebun itu adalah milik mereka, atau setidaknya mereka mengharapkan kebun itu jadi milik mereka. Inilah penyebab kenapa kita tidak bisa berguna bagi kerajaan Allah. Ketika kita merasa atau berharap untuk memiliki semua yang ada pada kita, saat itulah penyertaan Tuhan atas kita dan atas apa yang ada pada kita telah undur. Rindukah kita untuk melihat penyertaan Tuhan atas hidup kita? tapi siapa ''pemilik'' hidup kita yang sesungguhnya? Untuk tujuan siapa hidup kita mengalir? Apa betul untuk Tuhan, atau diri kita sendiri dengan mengatas namakan Tuhan? Berlakulah jujur terhadap kebenaran ini, sebab satu saat akan tersingkap semua.

Satu atau dua kali, mungkin kita bisa saja menipu orang disekitar kita dengan mengatakan bahwa ''Tuhan-lah pemilik hidup kita'' Kedengarannya begitu manis dan begitu rohani. Tapi hati nurani kita dan Tuhan sendiri tidak bisa dibohongi. Tindak-tandukmu sesungguhnya juga tidak bisa mengingkari kebenaran ini. Ketika manusia berpikir dan berusaha untuk memilik semua yang ada padanya sebagai seorang pemilik, bukan pengelola(steward), ujung-ujungnya , mereka akan berusaha ''membunuh Sang Ahli waris yang sesungguhnya''! Coba lihat ayat ini: ''...Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita.''(matius 21;38) Inilah akibat terburuk yang bisa terjadi atas orang orang yang merasa semua yang ada adalah miliknya sendiri. Apa yang seharusnya kita lakukan.


Ingat! Janganlah Engkau Tamak Hati
Ketamakan atas uang bisa sedemikian merusak hati dan langkah manusia. Jangan pernah menganggap remeh betapa besarnya pengaruh uang jika tidak dikelola dengan benar. Oleh akibat ''pengaruh jahat'' dari uang. ada sati kebohongan yang tersiar luas sampai ribuan tahun lamanya. Coba perhatikan satu kebenaran ini: ''mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. dan cerita ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini.''(Matius 28:15). kebohongan tentang kebangkitan Kristus pun dibungkus rapat-rapat sampai hari ini oleh banyak orang Yahudi hanya karena pengaruh dari sogokan oleh uang. Tanpa disadari, pengaruh akan kebohongan yang diakibatkan oleh cinta akan uang bisa bertahan sedemikian lama, berhati-hatilah.

Milikilah Hati yang Rela Agar Rencana Tuhan Terjadi

Miliki hati yang rela agar rencana Tuhan terjadi - Ada begitu banyak hal yang bisa kita lakukan, seandainya saja saudara dan saya rela untuk sesaat tidak sekedar melihat kepada diri sendiri, tapi kepada rencana besar surgawi. Sepanjang sejarah, ternyata kita menemukan bahwa pahlawan-pahlawan luar biasa bukanlah mereka yang memiliki ''banyak'', tapi mereka dengan hati yang rela untuk memberi.

Pada perang dunia dunia ke -2, di seluruh Eropa, sebagian besar dari orang-orang  yahudi yang berhasil di selamatkan, mereka diselamatkan oleh para petani sederhana, ibu rumah tangga sederhana yang menyembunyikan anak-anak Yahudi tersebut dan mengatakan bahwa mereka adalah anak-anak mereka sendiri, sementara ada begitu banyak orang-orang kaya dan berpengaruh, namun tidak melakukan apa-apa. Sekali lagi, rencana Tuhan tetap terjadi, melalui kita atau tidak melalui kita. Hanya hati yang rela dan siap yang akan mampu menangkap signal Tuhan ketika rencana-Nya di umumkan.


Hati yang rela

Perhatikan sekali lagi perkataan Mordekhai(Ester 4:13-14) kepada gereja Tuhan: ''...Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.'' Prinsip kedua yang juga sangat penting adalah: ''Ada yang disebut sebagai supreme goal atau tujuan agung utama bagi tiap-tiap kita, dan itu hanya terjadi satu kali seumur hidup, jika kita gagal mengenali kapan kesempatan untuk menggenapi supreme goal tersebut, maka kita akan kehilangan kesempatan emas tersebut selamanya''.

Milikilah hati yang rela agar rencana Tuhan terjadi.
Bagi setiap kita berlaku juga pernyataan Mordekhai, ''...Siapa tahu, mungkin justru untuk saat ini engkau menjadi... seorang yang terpandang, atau seorang yang sangat diberkati, atau seorang yang sangat mahir dalam satu bidang tertentu, atau sekedar ada di bangsa ini...'' Jangan pernah menganggap remeh kejadian yang berlangsung disekitar kita, karena kita tidak pernah mengetahui bahwa mungkin saja, sepanjang hidup kita di bumi, ternyata mengerucut untuk satu hal saja yang kita hadapi hari ini. Itu sebabnya pastikan hari kita masing-masing tertuju kepada Tuhan sendiri, kondisikan agar hati kita selalu lembut dan siap untuk menjalankan apa yang Tuhan rencanakan, agar kita tidak kehilangan kesempatan emas yang hanya datang sekali sepanjang umur hidup kita.


Renungan harian kristen.
Have a blessed day, GBU.

Translate


Popular Posts

Powered by Blogger.