Jangan sekedar mengucapkan doa tapi berdoa lah

berdoa
Jangan sekedar mengucapkan doa tapi berdoa lah - John Lake berkata satu ketika : "Terdapat perbedaan yang sangat jauh antara 'BERDOA' dan 'MENGUCAPKAN DOA'. Coba renungkan sebentar hal tersebut, sadarkah kita bahwa mungkin selama ini kita terjebak didalam kejenuhan dan kebosanan untuk berdoa karena kita sekedar 'mengucapkan doa'. Agama akan mengajarkan kita untuk 'mengucapkan doa' itu sebabnya hal tersebut harus dilakukan dengan cara tertentu, dengan metode dan bahasa tertentu. Sebaliknya iman percaya seseorang akan mengajarkan untuk 'berdoa' bukan sekedar 'mengucapkan doa'. Berdoa melibatkan keseluruhan hidup manusia, yaitu roh, jiwa dan penyembahan akan Tuhan, sebaliknya 'mengucapkan doa' dapat dilakukan sekedar oleh tubuh manusia, dimana kita sering menjadi lemah.

Selama ini saya berpikir murid-murid Tuhan memohon agar diajarkan cara bagaimana berdoa..., sehingga Tuhan Yesus mulai mengajarkan murid-muridnya dengan "Doa Bapa Kami",... Bukan demikian! Coba perhatikan kembali ayat lukas  11:1 murid-murid tidak berseru :"Tuhan ajarkan kami cara berdoa..." tapi mereka berseru : '"Tuhan ajarkan kami berdoa..." Methoda, posisi, tempat, tata krama berdoa itu tidak penting yang terpenting adalah hati yang siap untuk memulai berdoa, itulah perbedaan agamawi dan rohani. Adakah engkau ingin dan rindu untuk berdoa? Mulailah ambil keputusan untuk berdoa... Saran saya adalah, bangun pagi-pagi, sebelum melakukan apapun, mulailah berlutut dihadapan Bapa Surgawi dan bersyukur kepadaNya untuk segala sesuatu, bahkan untuk hal-hal yang belum terjadi sekalipun.

Ketika seorang mulai berdoa dan memuliakan Tuhan, apakah berarti Tuhan menjadi lebih besar? Tidak demikian, tapi yang pasti kita menjadi lebih sadar bahwa kita sangat kecil dan perlu Tuhan. Kerendahan hati kita mulai dibentuk ketika kita mulai berlutut dan berdoa. Kita mulai mengajar diri sendiri bahwa kita perlu Tuhan, Inilah rahasia kekuatan setiap anak-anak Tuhan, ketika kita secara sadar dan dengan disiplin untuk mencari wajah pertama-tama setiap hari-hari kita. itulah sebenarnya jeritan hati seorang murid yang berkata demikian: "Tuhan, ajarlah kami untuk berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya." Sebab jika engkau betul seorang murid Kristus, maka engkau akan dengan rela berlutut untuk mulai berdoa.

Berdoa tidak membuat Tuhan menjadi lebih besar atau lebih berkuasa, karena Dia memang maha kuasa, tapi berdoa akan mengajarkan kita untuk merendahkan hati kita untuk menyatakan kebesaran Tuhan dan mengakui keterbatasan diri sendiri. Berdoa menuntun kita untuk selalu berkata "aku perlu Tuhan" atau bagi yang menerima semua kebaikan atau tekanan hidup untuk tetap berkata: "semua ada karena Tuhan..." itu sebabnya doa yang paling berkenan adalah "pengurapan syukur". Alkitab mengajarkan 1 Tesalonika 5 :18 "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." Mulailah tiap-tiap pagi berdoa dengan sekedar mengucapkan syukur... just say thank you Jesus...

Belajar Bertekun dan Mengembangkan Kapasitas

Belajar bertekun dan mengembangkan kapasitas - Kita sudah belajar dari firman Tuhan bahwa persiapan itu ternyata sangat penting. Dalam arti yang sangat nyata, persiapan bagi orang percaya diawali dengan doa yang merendahkan diri dihadapan Tuhan, namun juga akan mengajar dan menuntun orang percaya untuk mengatur strategi, menggunakan pikiran yang Tuhan berikan, mempersiapkan diri. Bagi anak-anak muda, para pelajar, persiapan selain berdoa juga akan melatih dirimu untuk belajar sunguh-sungguh. bagi para pekerja atau pengusaha, periapan berarti mengembangkan kapasitas, belajar kembali, mengatur strategi untuk untuk bisa lebih maju. Mempersiapakan diri untuk dipakai Tuhan berarti harus dalam keadaan siap ketika kairos atau waktu Tuhan untuk memberkati dan mengangkat kita telah datang, kita ada dalam keadaan siap. Adakah kita dapat itu? Dalam keadaan siap sedia untuk menerima berkat Tuhan?

Persiapan akan menuntun dan mengajar kita untuk mengembangkan kapasitas kita. Belajar formal maupun tidak formal adalah salah satu cara mengembangkan kapasitas yang paling nyata. Alkitab mengajarkan: "Lapangkanlah tempat kemah mu, dan bentangkanlah tanda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya: panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu! sebab engkau akan mengembang ke kanan dan kekiri, keturunanmu akan memperoleh tempat bangsa-bangsa, dan akan mendiami kota-kota yang sunyi." (Yesaya 54:2-3). Perhatikan sekali lagi, sebelum janji untuk mengembang kekanan dan kekiri dinyatakan, Israel dituntut untuk melapangkan tempat kemahnya, memanjangkan tali-tali kemahnya, dan memperkokoh patok patoknya, itulah pengembangan kapastas sebelum berkembang kekanan dan kekiri.

Setiap pribadi dari kita pasti rindu untuk menerima berkat untuk berkembang, bertambah-tambah dan bertumbuh, tapi coba jujur kepada diri sendiri, adakah kapasitas kita juga bertumbuh? Adakah patok-patok atau karakter kita diperkokoh? Adakah wawasan kita diperluas? Kapan terakhir kali engkau membaca dan menyelesaikan satu buku bacaan yang berguna untuk meningkatkan kapasitasmu? Sejujurnya, sebagian besar orang tidak pernah melakukan persiapan yang perlu untuk memperluas kapasitasnya. Tidak pernah rindu untuk belajar apalagi membaca buku, tapi mereka juga rindu untuk diperluas berkat dan pengaruhnya. Ada pepatah  English Kuno yang berkata " kehendak untuk menang tidak berarti apa-apa, sebab semua orang pasti ingin menang, tapi kehendak untuk MEMPERSIAPKAN kemenangan, itulah yang membuat perbedaan."

Persiapan yang ditindaklanjuti dengan melangkahkan kaki, atau bertindak untuk mengerjakannya adalah sama seperti kapal layar yang  siap untuk menerima angin untuk berlayar, kapal layar hanya mampu berlayar karena digerakan oleh angin yang meniupnya, namun jika layar itu sendiri tidak dikembangkan, bagaimana mungkin angin yang bertiup bisa digunakan untuk menggerakan kapal tersebut untuk berlayar? Itulah alasan mengapa ketika datang kesempatan yang Tuhan kerjakan dalam satu kota atau satu bangsa, ada yang mengalami kelimpahan dan ada yang tidak. Ketika badai besar datang, ada kapal yang di buat terbalik, ada yang diangkat tinggi, lebih tinggi dari badai itu sendiri. Dimana perbedaannya? Apakah Tuhan pilih kasih? Atau mungkin kita sendiri yang tidak pernah memiliki persiapan untuk menerima kesempatan yang Tuhan buat?

Pastikan mulai sekarang tiap-tiap kita melatih diri kita sendiri untuk mempersiapkan "gelombang besar" yang akan Tuhan tetapkan terjadi melawat hidup  kita, dan ketika gelombang lawatan itu datang, kita dalam keadaan siap untuk menerima berkat, menerima kesempatan, menerima kemurahan Tuhan tersebut sama seperti lima anak dara yang bijaksana, yang mempersiapkan minyak cadangan sambil menunggu mempelai pria, yaitu Kristus sendiri, belajar lagi, bekerja lebih sungguh-sungguh lagi, belajar bertekun dan mengembangkan kapasitas, satu kali nanti, pada saat yang tidak disangka-sangka, engkau akan melihat , "it,s pay day someday..." "Ada hari pembayaran upah satu kali nanti" Jesus Love You

Berhati-hatilah pada Posisi dan Kekayaan

posisi dan kekayaan
Berhati-hatilah Pada Posisi dan Kekayaan - Pada akhirnya yang dikejar oleh iblis dari semua godaan dan cobaan  yang iblis kerjakan adalah hanya untuk satu tujuan, yaitu menjadi Tuhan atas kita. Ketika iblis gagal untuk membangkitkan kedagingan Yesus dan juga dida gagal untuk mendorong keangkuhan Yesus, akhirnya iblis membuka kedoknya sendiri: "...sembahlah aku...". Jangan pernah menganggap remeh untuk jatuh didalam hal kedagingan dan keangkuhan diri sendiri, sebab pada akhirnya, semua itu akan berujung kepada penyembahan kepada ilah-ilah lain yang bukan tuhan. karena Yesus sudah berhasil memenangkan kedua masalah dasar kejatuhan manusia , yaitu kedagingan dan kesombongan. Dia pun bisa menang atas penyembahan kepada iblis.

Sebelum iblis membuka kedoknya yang sebenarnya, yaitu ingin disembah, iblis melakukan 2 hal pertama yang juga dia lakukan kepada banyak orang percaya: dia menekan untuk menjatuhkan yaitu pengusik kedagingan kita, dan jika itu tidak berhasil dia lakukan, maka dia mendorong keatas, atau memuliakan dan membawa penghormatan yang begitu luar biasa. Umumnya, hal kedua ini jauh lebih berat daripada yang pertama, sebab penghormatan dan posisi itu begitu manisnya dan sulit untuk dikesampingkan. Bersamaan dengan posisi akan datang kekayaan, pengakuan manusia, kemewahan, dan tentunya juga hormat. Namun jika kita berhasil untuk menang seperti Yesus, kita tidak akan terjerat kepada penyembahan berhala, yang bisa berbentuk hormat itu sendiri.

Posisi dan kekayaan bukan sesuatu yang salah dan berdosa, namun bisa menjadi jerat yang sangat mematikan ketika kita tidak kuat menanggungnya. Konon seorang raja tua memberi pesan penting kepada anaknya, calon raja muda :"Kedudukan dan kekayaan  itu sesuatu yang berbahaya, semakin kita dipercayakan posisi dan kekayaan, semakin banyak kita dituntut bertanggung jawab." Saya percaya pesan itupun masih berlaku bagi kita semua, anak-anak Raja segala raja, semakin kita dipakai dan diberkati Tuhan, semakin besar tanggung jawab kita dihadapkan Tuhan. Jangan  sampai posisi dan kekayaan itu menjadi binatang buas yang menerkam kita, itu harus ditundukkan dibawah kuasa Roh Kudus, bukan kita yang tunduk kepada kekayaan.

Bilamanakah kekayaan dan kemegahannya menjadi tuhan atas kita? Lihat perkataan iblis yang ditulis di Injil Matius ketika kita "sujud menyembah aku(iblis)" Kata sujud artinya bertekuk lutut, dikuasai, diperhamba, dan tidak berdaya, itulah arti "sujud" dan dalam keadaan seperti itu, kemudian kita "menyembah" kekayaan itu sendiri, membuat dia sebagai tuhan dimana tanpa-nya kita tidak bisa hidup , sehingga habis habisan kita akan pertahankan kekayaaan tersebut. Kekayaan itu tidak salah, semua orang membutuhkannya, bahkan jika kita pergunakan dengan bijaksana, kita akan dibantu dan diperingan olehnya, namun ketika kita yang sujud kepadanya, sebenarnya itulah yang sedang disembah, bukan sekedar kekayaan semata.

Berhati-hatilah pada posisi dan kekayaan
Bileam didalam Kitab Bilangan 22-24 dikenal sebagai seorang nabi Tuhan yang perkataannya sangat diperhitungkan bukan hanya dihadapan manusia, namun terlebih dihadapan Tuhan, Nlak, raja Moab, telah berusaha untuk mengupah bileam untuk melanggar kebenaran Firman Tuhan dengan menyumpahi barisan rakyat israel yang sudah diberkati Tuhan. Tergoda karena "upah" yang begitu besar, Nileam telah berulang kali mencoba menghianati Tuhannya yang sudah dia layani seumur hidupnya. Pda Akhirnya, saat matinya Bileam dikenal sebagai "tukang tenung". sekalipun sesungguhnya dia adalah "abdi Allah yang diurapi". Semua itu terjadi karena dia telah sujud lalu menyembah kekayaan yang kemudian menjadi tuhannya.

Janganlah Engkau Bersungut-Sungut

Janganlah engkau bersungut-sungut - Persungutan atau berbantah adalah lawan kata dari mengucap syukur. Satu dosa orang Israel yang begitu menusuk hati Tuhan ketika mereka dibawa keluar oleh tangan Tuhan yang kuat adalah dosa persungutan. Alkitab menjelaskan salah satunya demikian: "Di padang gurun itu bersungut-sungut lah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun; dan berkata kepada mereka semua: Ah, kalau kami mati tadinya ditanah Mesir oleh tangan Tuhan ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar kepadang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan." (Keluaran 16:3). Coba simak baik-baik perkataan mereka, secara nyata orang Israel yang sedang bersungut sungut tersebut menggangap bahwa duduk menghadap kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang "SEBELUM BERAKHIR MATI" itu lebih baik dari pada "HIDUP TAPI TANPA DAGING" Bukankah itu pikiran yang gila?

bersungut-sungut

Persungutan bukan hanya merupakan satu tindakan yang membuktikan bahwa kita bukanlah manusia yang tidak bisa bersyukur, namun juga persungutan membuat pikiran sehat kita menjadi buntu dan kacau. Iman percaya kita dibuat menjadi begitu  tumpul dan tidak berdaya, sehingga kita tidak bisa melihat kebesaran Tuhan yang sedang beracara didalam hidup kita. Persungutan sesungguhnya sama saja dengan kita mengatakan bahwa "Tuhan telah salah bertindak", dan  kita tidak setuju dengan apa yang Tuhan lakukan, sehingga akibatnya kita bersungut-sungut akan apa yang terjadi di sekitar kita, akan kedaulatan Tuhan. Iman percaya orang yang bersungut sungut menjadi mati dan tidak difungsikan, dan oleh karenanya kita tidak bisa lagi mempercayai perkerjaan tangan Tuhan.

Firman Tuhan menegaskan arti "percaya" yang membuat orang diselamatkan. Apakah dengan sekedar mengatakan bahwa Kristus itu Tuhan, perkataan tersebut membuktikan bahwa kita sungguh-sungguh orang percaya yang akan diselamatkan? Alkitab menerangkan seperti berikut: "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan PERCAYA DIDALAM HATIMU, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan." (Roma 10:9) Kenapa tidak cukup diucapkan oleh bibir kita? Sebab jika sungguh-sungguh hati kita percaya, maka ucapan bibir bukan sekedar berkata "aku percaya", tapi  TIDAK menyatakan "aku tidak percaya". artinya tidak ada perbantahan, persungutan terhadap apa yang Tuhan kerjakan di dalam kehidupan kita. Apakah kita bisa berkata dengan jujur, "semua yang Tuhan buat itu baik bagiku?"

Janganlah engkau bersungut-sungut
Jika kita sadar bahwa persungutan dan perbantahan tidak sekedar sisa-sia belaka, namun sesungguhnya penolakan akan kedaulatan Tuhan, tindakan yang menantang Tuhan, masihkah kita mau terus hidup didalam pemberontakan akan Tuhan? Kenapa hati Tuhan begitu terluka akan persungutan dan perbantahan orang Israel , sampai sampai mereka dihabisi di padang gurun? Sebab mereka secara sadar telah menantang Tuhan Allah semesta langit dan bumi, yang sekalipun sudah begitu mengasihi mereka, membebaskan mereka dari perbudakan, namun hati mereka tidak benar-benar percaya. Hari ini, percayakah saudara akan Tuhan-mu? Jika engkau sungguh sungguh percaya, mungkinkah mulutmu, perbuatanmu menantang dan memberontak kepada-Nya dengan bersungut sungut dan berbantah-bantah?

Kitalah Harta Kesayangan Tuhan

harta kesayangan Tuhan
Kitalah Harta Kesayangan Tuhan - Di dalam rumah kita, ada barang-barang yang tidak berharga yang tidak terlalu menyita perhatian kita apalagi membutuhkan perawatan dan penanganan khusus, umumnya barang-barang kurang berharga seperti itu, kita tempatkan seadanya, tidak ada perlakuan khusus, tentu kita tidak akan mengorbankan barng-barang lain demi menjaga barang mulia yang bernilai tersebut. Namun ada juga mungkin barang -barang yang bernilai sekalipun belum tentu mahal harganya, namun karena barang tersebut bernilai bagi kita, seperti kalung emas pemberian mama atau oma sebelum meninggal, cincin kawin, atau lain-lainnya. Demi untuk menjaga barang barang tersebut, harga yang mahal akan kita bayar untuk menjaganya, bahkan barang-barang lain kita korbankan untuk memberi tempat bagi yang bernilai atau berharga tersebut. Tahukah saudara , bagi Tuhan, saudara sebagai pewaris janji Abraham, menurut perkataan Tuhan sendiri, engkau adalah '... harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa,...'

Sebagai harta kesayangan Tuhan sendiri. Tuhan telah rela menunjukan keberpihakan-Nya kepada Israel dibandingkan terhadap Mesir. Tuhan memberlakukan tulah demi tulah bagi Mesir demi untuk membebaskan Israel dari tangan Mesir. Sama seperti seorang wanita yang merelakan lemari hiasannya di kosongkan dan menjual atau melepaskan barang-barang yang ada didalamnya, hanya sekedar memberikan ruangan untuk menempatkan , harta kesayangannya' disana. Sadarkah saudara bahwa bagi Tuhan, engkau begitu berharganya sampai-sampai Dia menganggap engkau dan saya sebagai harta kesayangan-Nya sendiri? Bahkan bagi Dia, engkau lebih berharga dibandingkan dengan semua ciptaan-Nya yang lain, sampai sampai Dia sendiri menantang, "...sebab Akulah empunya seluruh bumi..." masih kah ada kekawatiran didirimu? Baca Juga : Takut Akan Tuhan Tidak Akan Kekurangan

Bukan hanya Tuhan menegakkan keadilan demi untuk membela harta kesayangan-Nya, Dia juga menopang kita sama seperti induk rajawali mendukung anak-anaknya diatas sayapnya. Tahukah saudara bagaimana cara induk rajawali mendukung anak-anaknya diatas sayapnya? Dengan sengaja seekor induk rajawali menggoyang balikan sarangnya sendiri demi untuk mengajar anak-anaknya, namun ketika sang anak rajawali itu hampir jatuh, secepat kilat sang induk datang menukik dan kemudian menggendong anak rajawali tersebut diatas sayapnya... itulah yang dimaksud bahwa Tuhan mendukung kita diatas sayap rajawali. Sebagai harta kesayangan Tuhan, kita akan diajar, dididik, dan dibentuk agar hidup kita tidak sisa-sia, namun ketika kita gagal, kita tidak dibuang, tapi diangkat kembali, sebab kita harta kesayangan Tuhan. Tidakkah kita patut bersyukur bahwa kita dikasihi Tuhan bukan sebagai barang mati yang tidak bergerak, namun seperti seorang anak kesayangan yang diajar dan dibentuk oleh tangan bapanya.

Sebagai harta kesayangan Tuhan, yang disayangi Tuhan, ditopang dengan sayap rajawali, dibela dan dijaga, adakah sesuatu yang perlu kita khawatirkan? Perhatikan bagian terakhir dari ayat Keluaran 19:3-5, '... sebab Akulah yang empunya seluruh bumi...' Kenapa harus dipertegas oleh Tuhan bahwa Dialah yang empunya seluruh bumi? Tujuannya adalah agar kita menjadi sadar bahwa Sang pemilik seluruh bumi itu menjaga dan memelihara harta kesayangan-Nya. Seorang anak miskin di India yang putus sekolah bertemu dalam satu kesempatan dengan Bill gates, pemilik microsoft dan orang terkaya di bumi, melihat beban dari raut anak kecil tersebut, Bill bertanya, apa yang menyusahkan hatimu? Anak itu berkata, dia ingin sekolah, tapi orangtuanya tidak mampu membayar uang sekolahnya... Bill lalu berkata, 'saya yang akan tanggung seluruh biaya sekolahmu sampai kamu selesai penuh, sejauh mana kamu mau belajar, saya yang akan bayar biayanya...' Mungkinkah ada kegalauan dan kekhawatiran lagi diraut anak tersebut? Kenapa bisa tiba-tiba hilang? Sebab seorang Bill Gates sudah berkata, dia yang jamin, dan Bill Gates adalah orang kaya raya. Siapakah yang berkata padamu hari ini: 'Aku yang mendukung engkau... sebagai harta kesayangan Ku sendiri...' Bukankah Dia Tuhan yang empunya seluruh bumi? Masihkah engaku takut? Kitalah harta kesayangan Tuhan.

Tidak Membela Diri

Tidak membela diri - terlalu banyak perkara yang kita habiskan untuk perkara-perkara yang entah tidak memiliki nilai kekekalan atau bahkan sama sekali sia-sia dibandingkan justru dengan perkara-perkara yang memiliki nilai kekekalan. Coba kita jujur, berapa banyak usaha dan waktu yang kita buang untuk membela dan mempertahankan reputasi kita dihadapan orang banyak? Sehingga kita mulai bertingkah seperti pemain sinetron atau para politisi yang berkata dan bertindak sekedar untuk mencitpkan "image yang baik" dihadapan para penonton dan belum tentu image yang kita pertontonkan tersebut sama dengan hidup kita yang sesungguhnya. Sebaliknya, Yesus justru tidak begitu perduli akan apa kata orang dibanding apa kata Bapa yang di Surga. Yesuslah contoh dan panutan kita.

Bayangkan Yesus yang sedang diadili dengan segala macam perktaan tuduhan yang dipelintir oleh orang-orang yang membenci-Nya, yang menginginkan kematian-Nya dengan berani menghalalkan segala mcam cara. Saksi palsu yang telah menerima uang suap sedang bersandiwara melontarkan tuduhan yang diarahkan kepada Yesus. Ingat bahwa saat itu, Yesus sekalipun Allah 100 %, Dia juga manusia 100% yang punya daging dan perasaan. Setelah semua tuduhan yang busuk  Dia dengarkan, kini tiba saatnya untuk membela diri dan membersihkan nama baik-nya. Namun lihat apa yang Dia lakukan, ''...Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawab...''(Markus 15:4-5). Baca Juga: Kerelaan hati yang tepat untuk dibentuk.

Seseorang yang lemah lembut bukanlah orang yang tutur bahasanya halus, bicaranya pelan-pelan, atau cengar-cengir (tersenyum) setiap kali berbicara. Lemah lembut itu bicara mengenai hati dan karakter. Jika Yesus itu mengejar reputasi semata , maka tidak diberi  kesempatan membela diri pun, Dia akan membela diri dan angkat bicara untuk bela diri. Tapi Yesus memilih diam ketika tuduhan palsu dan caci maki dilemparkan kepada-Nya. Inilah teladan kita, jangan membela diri. Biarkan Tuhan saja yang bekerja dan membela diri. Dia tetap Tuhan yang sanggup dan mengerti segala sesuatu, tidak perlu ada pengacara yang mewakili kita untuk membersihkan nama baik dan reputasi kita. Seperti itulah sikap anak Tuhan seharusnya.

Pada akhirnya, semua "kata orang" tidak akan lagi memiliki arti sama sekali, sebab tidak seorang-pun dapat membela kita dihadapan tahta pengadilan Bapa Surgawi. Hanya Kristus sendiri yang berhak untuk melakukan pembelaan dan pengadilan dan pembelaan-Nya itu menentukan akhir dari segalanya, termasuk dimana kita akan mengisi kekekalan. Perempuan sundal yang tertangkap basah dan siap untuk dirajam, sama sekali tidak membuka mulut, dia hanya tertuduk menantikan penghakiman Kristus, sekalipun mungkin dia memiliki seribu alasan kenapa dia sampai berzinah. Namun syukur kepada Tuhan, yang dia terima justru belas kasihan Tuhan, bukan penghakiman.

Apa yang membuat dunia heran melihat kita? Bukan kekayaan akibat berkat Tuhan yang ada pada kita, sebab orang yang tidak kenal Tuhanpun banyak yang kaya raya dan sepertinya diberkati. Bukan juga karena kehebatan dan kepandaian, fasih bicara kita, tidak sedikit orang yang tidak kenal Tuhan pandai dan memiliki kharisma berbicara yang luar biasa. Tapi satu hal ini akan membuat semua orang terheran-heran melihat kita, yaitu ketika kita bisa dengan tenang dan sabar ditengah tengah tuduhan dan caci maki, tanpa merasa perlu untuk membela diri. Bukankah itu juga yang membuat Pilatus heran? "...Lihatlah betapa banyaknya tuduhan mereka terhadap Engkau! Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawab lagi, sehingga Pilatus menjadi HERAN."

Kekuatan Dari Kelemahan Dalam Kuasa Tuhan

kekuatan dari kelemahan
Kekuatan dari kelemahan dalam kuasa Tuhan - Hal kecil yang kadang dianggap tidak berarti bahkan cenderung disebut sebagai kelemahan tapi justru menjadi sumber berlakunya rencana besar Tuhan atas kita diumpamakan oleh Firman Tuhan sebagai: "semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas,..." Kecil, tidak berarti, tidak kuat, namun ada pandangan besar yang perlu diperhatikan oleh orang percaya dari binatang semut ini. Kalau boleh saya katakan, kekuataan hikmat ini adalah: "the power of preparation - atau kekuataan dari satu persiapan". Tahukan saudara apa bedanya lotere dengan berkat? Bedanya yang satu tidak memerlukan usaha apapun untuk mendapatkannya, bangun tidur dengan malasnya, untung-untungan dapat lotere tanpa usaha apapun, sebaliknya berkat Tuhan adalah sesuatu yang diperoleh akibat kekuatan yang Tuhan berikan yang dengan jelas dikatakan di Ulangan :18 "Tetapi haruslah engkau ingat kepada Tuhan, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan,..." Berkat Tuhan didapatkan lewat kekuatan yang Tuhan berikan, lewat kerja keras melalui kekuatan, hikmat yang dari Tuhan.

Jika berkat Tuhan itu kita terima lewat kekuataan yang Tuhan berikan dan kerja keras yang kita setia lakukan, barulah kita akan mengenal dan memahami rahasia pertama yang kitab Amsal ini nyatakan, yaitu "the power of preparation atau kekuatan dari satu persiapan". Ada satu kekuatan yang luar biasa yang jika saudara dan saya lakukan dengan sungguh-sungguh, jika saja kita bersedia untuk berlelah-lelah untuk membuat persiapan-persiapan dalam rangka apapun yang hendak kita capai, maka kita akan melihat perbedaan yang luar biasa. Tidak ada orang luar biasa yang tampi dalam bidang apapun tanpa satu perjalanan persiapan yang melelahkan, semua harus melewati proses ini, orang yang sukses memulai kesuksesannya sejak anak-anak melalui persiapan belajar dan berlatih sungguh- sungguh, semua tokoh-tokoh Alkitab yang berhasil memiliki waktu persiapan, yaitu doa-doa pribadi sebelum mencapai rencana besar yang Tuhan sediakan bagi mereka.

Semut yang kecil sadar akan kelemahannya, dia tidak seperti ular yang mampu makan sekali selama beberapa bulan, lalu tidur dan membenamkan dirinya selama musim dingin setelah memangsa satu makanan yang cukup besar yang ditelan hidup-hidup. Tubuh ular bisa begitu elatisnya sampai dia mampu menelan mangsa yang jauh lebih besar dari diameter tubuhnya. Namun semut tidaklah demikian. Semut perlu makan secara rutin tiap-tiap hari, termasuk di musim dingin, sama seperti manusia. Itukah sebab nya semut memiliki hikmat untuk merubah kelemahannya menjadi kekuatan, itulah yang saya sebut sebagai 'the power of preparation kekuatan untuk melakukan persiapaan'. Dalam hak yang sama, Tuhan melalui kitab Amsal mendorong kita para pemalas untuk belajar dari semut :Amsal 6:6 "Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak".

Kekuatan dari kelemahan dalam kuasa Tuhan.
Bagi para pemalas, dengarkanlah Firman Tuhan, belajar dari semut berarti: rendahkan dirimu! Jika semut dianggap Tuhan layak menjadi gurumu, berarti engkau perlu belajar rendah hati dan meniru perilakunya, kedua berhenti menjadi ular yang hanya bermalas malasan dengan tidur sepanjang musim menanam dan menabur! Jika engkau beserta keluargamu tidak mau mati dimusim dingin, dan suatu kali nanti jika anak-anak mau sekolah, belajar bekerja keras dan menabung, itulah persiapan yang merupakan kekuatan orang-orang benar, kekuatan dari kelemahan dalam Kuasa Tuhan 'the power of preparation'. Kelemahan dan keterbatasan yang selama ini dianggap sebagai aib atau beban buruk, justru itulah titik balik yang bisa Tuhan jadikan sebagai awal keberhasilan kita.


Jesus love you, renungan harian kristen.


Popular Posts

Powered by Blogger.