Home » , , » Nama Baik Lebih Berharga Daripada Emas dan Perak

Nama Baik Lebih Berharga Daripada Emas dan Perak

Nama baik lebih berharga daripada emas dan perak - kadang sering kita hadapi bahwa membedakan hikmat yang dari Tuhan dengan hikmat manusia itu sangat sulit. dua orang anak Tuhan, bahkan dua orang hamba Tuhan bisa bertengkar hebat, dan aneh nya, kedua-duanya sama-sama berpegang teguh kepada argumentasinya karena kedua-duanya merasa "dipimpin oleh Roh Kudus". Didalam satu pelayanan, atau di dalam satu usaha kerjasama, bahkan di dalam membangun satu keluarga bersama, dua orang bisa sama-sama ngotot bahwa dirinya benar dan dia bahkan bawa-bawa hikmat Tuhan untuk lebih meyakinkan bahwa dia benar. Tapi bagaimana hal itu bisa dikatakan benar? Mungkinkah hikmat Tuhan yang sama membisikan dua nasehat yang berbeda kepada dua orang anak Tuhan? Atau mungkinkah salah satu dari mereka, atau mungkin kedua-duanya bukan sedang berjalan mengikuti pimpinan Hikmat Tuhan?

Bagaimana kita dapat yakin dengan benar bahwa kita sedang berjalan dibawah tuntunan Hikmat Tuhan dan bukan hikmat dunia? Hikmat dunia berkata "dengan modal sekecil-kecilnya dalam waktu sesingkat-singkatnya untuk mendapatkan hasil sebesar-besarnya" harta, keuntungan besar dan kekayaan adalah segala-galanya, jika itu harus dicapai dengan berbuat curang sekalipun, lakukan saja demi uang dan keuntungan. Sebaliknya, hikmat Tuhan berkata: "Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada emas dan perak". Orang yang dituntun oleh hikmat Ilahhi, tidak akan menghalalkan segala cara demi untung besar. Bekerja keras itu baik, berusaha dengan intelligent itu bijaksana, tapi tidak dengan berbuat curang, sebab hikmat Tuhan akan mengajar kita untuk menjaga nama baik, bukan sekedar keuntungan.

Ketika seseorang dengan rakusnya mengejar keuntungan, sampai rela menghalalkan segala macam cara, termaksud memperdaya orang lain, sesungguhnya dia sedang melakukan sesuatu yang sungguh-sungguh bertolak belakang dari Firman Tuhan yang dinyatakan di Amsal 22:1. Baginya kekayaan besar lebih berharga daripada nama baik; mendapatkan emas dan perak itu jauh lebih menguntungkan sekalipun harus bermusuhan dengan orang lain. Baginya dikasihi orang itu tidak ada nilainya sama sekali, apalagi jika dibanding keuntungan besar. Saya hampir-hampir yakin, jika kita berani memilih untuk merugikan orang lain dan bertengkar akan hal tersebut, sekalipun kita memiliki sederetan argumentasi atas hal itu, pasti bukan Hikmat Roh Kudus yang sedang menuntun langkah hidup kita, tapi kedagingan dan kerakusan. Mari uji diri kita masing-masing.

Banyak orang berjuang keras untuk bisa mewarisi pendidikan yang baik bagi anaknya; perusahaan yang cukup mapan bagi mereka; atau rumah yang baik, kekayaan yang cukup untuk masa depan keturunannya. Semua itu tidak salah, tapi pernahkah saudara berfikir untuk mewarisi nama baik bagi anak-anak kita? Nama harum bagi keturunan kita? Jika kita sungguh-sungguh hidup benar dan hati-hati, satu kali setelah kita mati, anak-anak kita akan memetik buahnya. Apakah orang lain akan berkata dengan berbisik-bisik:... dia ini anak si anu, si tukang bohong, yang bapaknya dulu koruptor besar, anak orang licik, ana penipu licin," Atau dengan terbuka mereka berkata kepada anak-anak kita:...nak, kalau kamu perlu apa-apa, cari oom, papamu dulu sudah begitu banyak membantu orang lain, papamu orang jujur, dia tidak pernah berbuat curang." Apa yang saudara lakukan, akan dituai anak-anakmu kelak.

Jika kita jujur berkata bahwa nama baik berharga buat saya dibanding semua harta kekayaan dunia, maka berani kah kita atau relakah kita berpegang kepada sumpah sekalipun rugi? atau mungkin sebaliknya, lebih baik membatalkan sumpah daripada rugi? Masing-masing kita perlu melihat diri kita sendiri, akan apa yang menjadi tujuan hidup kita masing-masing, apa yang kita perjuangkan habis habisnya. Dalam hal uang, umumnya kita bisa mengukur karakter seseorang. Jika kita mau menilai kedalaman karakter seseorang, percayakan dia untuk memegang uang, atau untuk mengatur uang. Jika dia lulus dalam hal ini, hampir pasti karakternya  benar, tapi sebaliknya jika dia gagal dalam hal ini, berarti dia sedang menjual nama baik demi kekayaan. Jangan meniru cara hidup orang yang demikian.

Have a blessed day,
Jesus love you.

0 comments:

Post a Comment


Popular Posts

Powered by Blogger.