Siapakah yang tau isi hati manusia?

hati manusia
Siapakah yang tau isi hati manusia? - Jika kita mau memahami kemampuan yang terdapat di dalam satu alat mesin, maka kita harus bertanya kepada sang Penciptanya atau membaca buku manualnya. Bagaimana dengan manusia? Satu-satunya pribadi yang dapat melukiskan keberadaan manusia sedemikian akurat nya adalah Tuhan yang menyatakan diri-Nya melalui Alkitab, yang kita kenal didalam Kristus Yesus Tuhan ita. Kepada Yeremia Tuhan melukis kan keberadaan hati kita sedemikian sempurnanya, New Living Trasnlation mengatakan demikian: "The Human Heart is the most deceitful of all things, and desperately wicked.  Who really knows how bad it is? But I, the lord, Hati manusia adalah yang paling licik diantara segalanya, betapa jahatnya. Siapakah yang benar-benar tau betapa busuknya hati manusia, kecuali Aku Tuhan..." (Yer 17:9-10a). Inilah sumber permasalahan yang terjadi diseluruh dunia dan yang membuat kekacauan yang begitu besarnya. Kapan terakhir kali engkau menengok isi hatimu sendiri?

Sejahat-jahatnya binatang buas, dia hanya akan membunuh jenis lainnya hanya untuk bisa bertahan hidup, untuk makan, atau jika binatang sampai membunuh sesama jenisnya, dia melakukan hal tersebut untuk mempertahankan wilayah teritorinya, dan itupun terjadi diantara satu atau dua ekor saja. Satu orang anak manusia mampu membunuh dan mendatangkan malapetaka bagi ribuan bahkan jutaan demi memenuhi egonya sendiri seperti Joseph Stallin, Adolf Hitler atau demi ideology seperti sekarang banyak kita dengar dimana-mana. Dengan kata lain, persis seperti yang Firman Tuhan katakan di Yeremia 17:9-10, hati manusia begitu busuknya dan didalamnya tidak seorangpun dapat mengetahuinya kecuali Tuhan sendiri. Segala sesuatu yang manusia lakukan tanpa Tuhan adalah tindakan untuk menutup-nutupi kedegilan dan kebusukan hati. Kegiatan social tanpa Tuhan hanyalah berkutik di area 'nama baik' atau maksimal 'perasaan belaka'. Ritual-ritual agamawi tanpa Tuhan hanyalah sandiwara agar terlihat baik dan terhormat. Hati manusia memerlukan solusi yang sesungguhnya, dan hanya Tuhan sendiri yang mampu mengatasinya, bawalah hati kita kepada Dia.

Sekarang kita fokus kepada apa yang membuat Tuhan begitu kecewa bahkan menyesal telah menciptakan manusia pada jaman Nuh, coba perhatikan ayat-ayat diatas, dimata Tuhan, 'segala kecenderungan hati manusia selalu membuahkan kejahatan semata-mata, dan itulah yang memilukan atau mendukakan hati Tuhan. Sehingga pada jaman Nuh, Tuhan terpaksa harus membinasakan seluruh umat manusia kecuali Nuh dan keluarganya. Inilah yang harus kita perhatikan tanpa campur tangan Tuhan, tanpa diserahkan kepada Tuhan untuk dikuasai dan dipimpin oleh Tuhan sendiri, hati setiap manusia adalah busuk dan condong untuk membuahkan kejahatan semata-mata. Kejahatan yang dapat ditimbulkan oleh hati manusia begitu dahsyatnya sampai dapat membawa kehancuran bagi bumi. Pembantaian massal, pelecehan seksual, menggumbar nafsu sex yang jahat dan menjijikan, penghancuran lingkungan, peniksaan dan segala jenis kejahatan lainnya, tidak pernah dilakukan oleh satu makhluk sekalipun kecuali manusia. Itulah sebabnya, hati kita perlu diserahkan kepada Tuhan yang menciptakan kita. baca juga: Kerelaan hati untuk dibentuk

Sekarang kita mengerti apa yang mendukakan hati Tuhan, ketika Dia melihat isi hati manusia yang tanpa Tuhan, maka kecenderungannya adalah membuahkan kejahatan semata-mata. Bagiamana kita dapat menyuka kan Dia? Inilah juga yang dilakukan oleh Yeremia, coba perhatikan doanya: Yeremia 11:20 "Tetapi, Tuhan semesata alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mu lah kuserahkan perkara kedegilan dan kebusukan, Yeremia memilih untuk  membawa perkara yang dia hadapi kepada Tuhan, dia memilih untuk menyerahkan dan membiarkan Tuhan yang menentukan dan mengambil keputusan atas semua perkaranya. Dengan kata lain, Yeremia melatih dirinya sendiri untuk tidak mengambil keputusan berdasarkan 'apa kata hati nya' tapi berdasar kan 'apa kata Firman Tuhan' Itulah hikmat yang Yeremia kerjakan yang juga menjadi pembelajaran berharga bagi kita.

Tidak Membela Diri

Tidak membela diri - terlalu banyak perkara yang kita habiskan untuk perkara-perkara yang entah tidak memiliki nilai kekekalan atau bahkan sama sekali sia-sia dibandingkan justru dengan perkara-perkara yang memiliki nilai kekekalan. Coba kita jujur, berapa banyak usaha dan waktu yang kita buang untuk membela dan mempertahankan reputasi kita dihadapan orang banyak? Sehingga kita mulai bertingkah seperti pemain sinetron atau para politisi yang berkata dan bertindak sekedar untuk mencitpkan "image yang baik" dihadapan para penonton dan belum tentu image yang kita pertontonkan tersebut sama dengan hidup kita yang sesungguhnya. Sebaliknya, Yesus justru tidak begitu perduli akan apa kata orang dibanding apa kata Bapa yang di Surga. Yesuslah contoh dan panutan kita.

Bayangkan Yesus yang sedang diadili dengan segala macam perktaan tuduhan yang dipelintir oleh orang-orang yang membenci-Nya, yang menginginkan kematian-Nya dengan berani menghalalkan segala mcam cara. Saksi palsu yang telah menerima uang suap sedang bersandiwara melontarkan tuduhan yang diarahkan kepada Yesus. Ingat bahwa saat itu, Yesus sekalipun Allah 100 %, Dia juga manusia 100% yang punya daging dan perasaan. Setelah semua tuduhan yang busuk  Dia dengarkan, kini tiba saatnya untuk membela diri dan membersihkan nama baik-nya. Namun lihat apa yang Dia lakukan, ''...Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawab...''(Markus 15:4-5). Baca Juga: Kerelaan hati yang tepat untuk dibentuk.

Seseorang yang lemah lembut bukanlah orang yang tutur bahasanya halus, bicaranya pelan-pelan, atau cengar-cengir (tersenyum) setiap kali berbicara. Lemah lembut itu bicara mengenai hati dan karakter. Jika Yesus itu mengejar reputasi semata , maka tidak diberi  kesempatan membela diri pun, Dia akan membela diri dan angkat bicara untuk bela diri. Tapi Yesus memilih diam ketika tuduhan palsu dan caci maki dilemparkan kepada-Nya. Inilah teladan kita, jangan membela diri. Biarkan Tuhan saja yang bekerja dan membela diri. Dia tetap Tuhan yang sanggup dan mengerti segala sesuatu, tidak perlu ada pengacara yang mewakili kita untuk membersihkan nama baik dan reputasi kita. Seperti itulah sikap anak Tuhan seharusnya.

Pada akhirnya, semua "kata orang" tidak akan lagi memiliki arti sama sekali, sebab tidak seorang-pun dapat membela kita dihadapan tahta pengadilan Bapa Surgawi. Hanya Kristus sendiri yang berhak untuk melakukan pembelaan dan pengadilan dan pembelaan-Nya itu menentukan akhir dari segalanya, termasuk dimana kita akan mengisi kekekalan. Perempuan sundal yang tertangkap basah dan siap untuk dirajam, sama sekali tidak membuka mulut, dia hanya tertuduk menantikan penghakiman Kristus, sekalipun mungkin dia memiliki seribu alasan kenapa dia sampai berzinah. Namun syukur kepada Tuhan, yang dia terima justru belas kasihan Tuhan, bukan penghakiman.

Apa yang membuat dunia heran melihat kita? Bukan kekayaan akibat berkat Tuhan yang ada pada kita, sebab orang yang tidak kenal Tuhanpun banyak yang kaya raya dan sepertinya diberkati. Bukan juga karena kehebatan dan kepandaian, fasih bicara kita, tidak sedikit orang yang tidak kenal Tuhan pandai dan memiliki kharisma berbicara yang luar biasa. Tapi satu hal ini akan membuat semua orang terheran-heran melihat kita, yaitu ketika kita bisa dengan tenang dan sabar ditengah tengah tuduhan dan caci maki, tanpa merasa perlu untuk membela diri. Bukankah itu juga yang membuat Pilatus heran? "...Lihatlah betapa banyaknya tuduhan mereka terhadap Engkau! Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawab lagi, sehingga Pilatus menjadi HERAN."

Milikilah Hati yang Bijaksana

Hati yang bijaksana
Milikilah hati yang bijaksana - Bronnie Ware adalah seorang perawat Australia yang bekerja di salah satu rumah sakit. Tugasnya adalah merawat pasien-pasien yang di vonis memiliki usia tinggal 3 bulan atau kurang. Selama merawat pasien-pasien yang memiliki usia tinggal hitungan hari tersebut, Bronnie melihat begitu banyak penyesalan akan waktu yang hilang sia-sia. Sebagian besar dari mereka yang divonis hidup hanya beberapa bulan lagi menyatakan seandainya mereka bisa mengulangi waktu hidupnya, mereka ingin  mengisinya dengan  hidup yang lebih berguna bagi Tuhan dan sesama, lebih banyak waktu bersama keluarga dan orang yang mereka kasihi, mereka menyesal telah menghabiskan waktunya dengan sia-sia. Ketika saat-saat terakhir dari hidup kita, adakah penyesalan akan waktu yang terbuang sia-sia?

Menurut kesimpulan yang Bronnie Ware tuliskan, tidak seorang pun dari pasien yang divonis beberapa bulan lagi tersebut yang merindukan untuk seandainya saja... maka saya akan bekerja dan mengumpulkan uang lebih banyak lagi,... atau mengusahakan posisi kekuasaan lebih tinggi lagi... atau mengejar karier dan cita-cita lebih tinggi lagi... ini adalah sifat manusiawi, ingin lebih kaya lagi, lalu setelah kaya, ingin berkuasa dan memiliki jabatan tinggi, untuk apa? Supaya dengan jabatan dan kekuasaan itu, mereka bisa lebih kaya lagi, Orang yang hidupnya tinggal hitungan hari, sadar bahwa hal-hal itu ternyata sia-sia, sebaliknya hampir semua pasien tersebut merindukan untuk mengisi waktu hidupnya untuk hal-hal yang lebih berguna, lebih banyak waktu dengan keluarga. Jika kita sadar hal itu, kenapa harus menunggu sampai hidup kita tinggal beberapa bulan lagi? Kenapa tidak kita isi dengan benar sejak sekarang?

Menyadari bahwa hidup ini tidak kekal, hati yang bijaksana akan mengajar kita untuk mengisi hidup yang tidak kekal ini dengan nilai-nilai kekekalan. Oscar Schindler, seorang petinggi pemerintahan Nazi Hitler yang menyelamatkan ratusan bahkan hampir ribuan orang-orang Yahudi pada saat perang dunia ke-2 pecah di Eropa, yang kisah hidupnya pernah diangkat ke layar lebar yang berjudul ''Schindler's list'', saat Nazi sudah dikalahkan, dan karena jabatannya di pemerintahan Nazi, tetap harus dibawa ke pengadilan Internasional, menyatakan : ''seandainya saja saya masih memiliki waktu, saya akan selamatkan lebih banyak orang-orang Yahudi supaya mereka tidak perlu mati sia sia, seandainya saja saya sempat menjual beberapa milik saya ini, tentu uangnya bisa dipakai untuk menyelamatkan anak-anak yatim dari kehilangan orang tuanya''. Seperti itulah hati yang bijaksana.

Mazmur Musa telah mengajarkan kepada kita satu kebenaran yang tidak pernah kadaluarsa sepanjang zaman, kebenaran tentang rahasia memperoleh hati yang bijaksana. Dengan belajar menghitung hari-hari di hidup ini, maka kita akan dibuat sadar bahwa setiap hari yang kita lalui itu berarti satu hari lagi lebih dekat dengan akhir hidup ini. Jika hari-hari yang kita lalui itu berarti  hari kita semakin pendek, dan semakin dekat dengan hari pertemuan dengan Sang Pencipta, akankah kita terus bermain main dengan hidup yang sangat singkat ini? Atau sebaliknya kita akan lebih berhati-hati dalam menjalani hidup ini? Demikianlah rahasia untuk memperoleh hati yang bijaksana, kebijaksanaan tumbuh ketika kita sadar bahwa hidup ini ada akhirnya, ada ujungnya, dan bahkan ternyata ujungnya sangat singkat, kebijaksanaan akan mendorong kita untuk melakukan yang mulia dan benar.

Translate


Popular Posts

Powered by Blogger.