Jangan sekedar mengucapkan doa tapi berdoa lah

berdoa
Jangan sekedar mengucapkan doa tapi berdoa lah - John Lake berkata satu ketika : "Terdapat perbedaan yang sangat jauh antara 'BERDOA' dan 'MENGUCAPKAN DOA'. Coba renungkan sebentar hal tersebut, sadarkah kita bahwa mungkin selama ini kita terjebak didalam kejenuhan dan kebosanan untuk berdoa karena kita sekedar 'mengucapkan doa'. Agama akan mengajarkan kita untuk 'mengucapkan doa' itu sebabnya hal tersebut harus dilakukan dengan cara tertentu, dengan metode dan bahasa tertentu. Sebaliknya iman percaya seseorang akan mengajarkan untuk 'berdoa' bukan sekedar 'mengucapkan doa'. Berdoa melibatkan keseluruhan hidup manusia, yaitu roh, jiwa dan penyembahan akan Tuhan, sebaliknya 'mengucapkan doa' dapat dilakukan sekedar oleh tubuh manusia, dimana kita sering menjadi lemah.

Selama ini saya berpikir murid-murid Tuhan memohon agar diajarkan cara bagaimana berdoa..., sehingga Tuhan Yesus mulai mengajarkan murid-muridnya dengan "Doa Bapa Kami",... Bukan demikian! Coba perhatikan kembali ayat lukas  11:1 murid-murid tidak berseru :"Tuhan ajarkan kami cara berdoa..." tapi mereka berseru : '"Tuhan ajarkan kami berdoa..." Methoda, posisi, tempat, tata krama berdoa itu tidak penting yang terpenting adalah hati yang siap untuk memulai berdoa, itulah perbedaan agamawi dan rohani. Adakah engkau ingin dan rindu untuk berdoa? Mulailah ambil keputusan untuk berdoa... Saran saya adalah, bangun pagi-pagi, sebelum melakukan apapun, mulailah berlutut dihadapan Bapa Surgawi dan bersyukur kepadaNya untuk segala sesuatu, bahkan untuk hal-hal yang belum terjadi sekalipun.

Ketika seorang mulai berdoa dan memuliakan Tuhan, apakah berarti Tuhan menjadi lebih besar? Tidak demikian, tapi yang pasti kita menjadi lebih sadar bahwa kita sangat kecil dan perlu Tuhan. Kerendahan hati kita mulai dibentuk ketika kita mulai berlutut dan berdoa. Kita mulai mengajar diri sendiri bahwa kita perlu Tuhan, Inilah rahasia kekuatan setiap anak-anak Tuhan, ketika kita secara sadar dan dengan disiplin untuk mencari wajah pertama-tama setiap hari-hari kita. itulah sebenarnya jeritan hati seorang murid yang berkata demikian: "Tuhan, ajarlah kami untuk berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya." Sebab jika engkau betul seorang murid Kristus, maka engkau akan dengan rela berlutut untuk mulai berdoa.

Berdoa tidak membuat Tuhan menjadi lebih besar atau lebih berkuasa, karena Dia memang maha kuasa, tapi berdoa akan mengajarkan kita untuk merendahkan hati kita untuk menyatakan kebesaran Tuhan dan mengakui keterbatasan diri sendiri. Berdoa menuntun kita untuk selalu berkata "aku perlu Tuhan" atau bagi yang menerima semua kebaikan atau tekanan hidup untuk tetap berkata: "semua ada karena Tuhan..." itu sebabnya doa yang paling berkenan adalah "pengurapan syukur". Alkitab mengajarkan 1 Tesalonika 5 :18 "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." Mulailah tiap-tiap pagi berdoa dengan sekedar mengucapkan syukur... just say thank you Jesus...

Belajar Bertekun dan Mengembangkan Kapasitas

Belajar bertekun dan mengembangkan kapasitas - Kita sudah belajar dari firman Tuhan bahwa persiapan itu ternyata sangat penting. Dalam arti yang sangat nyata, persiapan bagi orang percaya diawali dengan doa yang merendahkan diri dihadapan Tuhan, namun juga akan mengajar dan menuntun orang percaya untuk mengatur strategi, menggunakan pikiran yang Tuhan berikan, mempersiapkan diri. Bagi anak-anak muda, para pelajar, persiapan selain berdoa juga akan melatih dirimu untuk belajar sunguh-sungguh. bagi para pekerja atau pengusaha, periapan berarti mengembangkan kapasitas, belajar kembali, mengatur strategi untuk untuk bisa lebih maju. Mempersiapakan diri untuk dipakai Tuhan berarti harus dalam keadaan siap ketika kairos atau waktu Tuhan untuk memberkati dan mengangkat kita telah datang, kita ada dalam keadaan siap. Adakah kita dapat itu? Dalam keadaan siap sedia untuk menerima berkat Tuhan?

Persiapan akan menuntun dan mengajar kita untuk mengembangkan kapasitas kita. Belajar formal maupun tidak formal adalah salah satu cara mengembangkan kapasitas yang paling nyata. Alkitab mengajarkan: "Lapangkanlah tempat kemah mu, dan bentangkanlah tanda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya: panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu! sebab engkau akan mengembang ke kanan dan kekiri, keturunanmu akan memperoleh tempat bangsa-bangsa, dan akan mendiami kota-kota yang sunyi." (Yesaya 54:2-3). Perhatikan sekali lagi, sebelum janji untuk mengembang kekanan dan kekiri dinyatakan, Israel dituntut untuk melapangkan tempat kemahnya, memanjangkan tali-tali kemahnya, dan memperkokoh patok patoknya, itulah pengembangan kapastas sebelum berkembang kekanan dan kekiri.

Setiap pribadi dari kita pasti rindu untuk menerima berkat untuk berkembang, bertambah-tambah dan bertumbuh, tapi coba jujur kepada diri sendiri, adakah kapasitas kita juga bertumbuh? Adakah patok-patok atau karakter kita diperkokoh? Adakah wawasan kita diperluas? Kapan terakhir kali engkau membaca dan menyelesaikan satu buku bacaan yang berguna untuk meningkatkan kapasitasmu? Sejujurnya, sebagian besar orang tidak pernah melakukan persiapan yang perlu untuk memperluas kapasitasnya. Tidak pernah rindu untuk belajar apalagi membaca buku, tapi mereka juga rindu untuk diperluas berkat dan pengaruhnya. Ada pepatah  English Kuno yang berkata " kehendak untuk menang tidak berarti apa-apa, sebab semua orang pasti ingin menang, tapi kehendak untuk MEMPERSIAPKAN kemenangan, itulah yang membuat perbedaan."

Persiapan yang ditindaklanjuti dengan melangkahkan kaki, atau bertindak untuk mengerjakannya adalah sama seperti kapal layar yang  siap untuk menerima angin untuk berlayar, kapal layar hanya mampu berlayar karena digerakan oleh angin yang meniupnya, namun jika layar itu sendiri tidak dikembangkan, bagaimana mungkin angin yang bertiup bisa digunakan untuk menggerakan kapal tersebut untuk berlayar? Itulah alasan mengapa ketika datang kesempatan yang Tuhan kerjakan dalam satu kota atau satu bangsa, ada yang mengalami kelimpahan dan ada yang tidak. Ketika badai besar datang, ada kapal yang di buat terbalik, ada yang diangkat tinggi, lebih tinggi dari badai itu sendiri. Dimana perbedaannya? Apakah Tuhan pilih kasih? Atau mungkin kita sendiri yang tidak pernah memiliki persiapan untuk menerima kesempatan yang Tuhan buat?

Pastikan mulai sekarang tiap-tiap kita melatih diri kita sendiri untuk mempersiapkan "gelombang besar" yang akan Tuhan tetapkan terjadi melawat hidup  kita, dan ketika gelombang lawatan itu datang, kita dalam keadaan siap untuk menerima berkat, menerima kesempatan, menerima kemurahan Tuhan tersebut sama seperti lima anak dara yang bijaksana, yang mempersiapkan minyak cadangan sambil menunggu mempelai pria, yaitu Kristus sendiri, belajar lagi, bekerja lebih sungguh-sungguh lagi, belajar bertekun dan mengembangkan kapasitas, satu kali nanti, pada saat yang tidak disangka-sangka, engkau akan melihat , "it,s pay day someday..." "Ada hari pembayaran upah satu kali nanti" Jesus Love You

Berhati-hatilah pada Posisi dan Kekayaan

posisi dan kekayaan
Berhati-hatilah Pada Posisi dan Kekayaan - Pada akhirnya yang dikejar oleh iblis dari semua godaan dan cobaan  yang iblis kerjakan adalah hanya untuk satu tujuan, yaitu menjadi Tuhan atas kita. Ketika iblis gagal untuk membangkitkan kedagingan Yesus dan juga dida gagal untuk mendorong keangkuhan Yesus, akhirnya iblis membuka kedoknya sendiri: "...sembahlah aku...". Jangan pernah menganggap remeh untuk jatuh didalam hal kedagingan dan keangkuhan diri sendiri, sebab pada akhirnya, semua itu akan berujung kepada penyembahan kepada ilah-ilah lain yang bukan tuhan. karena Yesus sudah berhasil memenangkan kedua masalah dasar kejatuhan manusia , yaitu kedagingan dan kesombongan. Dia pun bisa menang atas penyembahan kepada iblis.

Sebelum iblis membuka kedoknya yang sebenarnya, yaitu ingin disembah, iblis melakukan 2 hal pertama yang juga dia lakukan kepada banyak orang percaya: dia menekan untuk menjatuhkan yaitu pengusik kedagingan kita, dan jika itu tidak berhasil dia lakukan, maka dia mendorong keatas, atau memuliakan dan membawa penghormatan yang begitu luar biasa. Umumnya, hal kedua ini jauh lebih berat daripada yang pertama, sebab penghormatan dan posisi itu begitu manisnya dan sulit untuk dikesampingkan. Bersamaan dengan posisi akan datang kekayaan, pengakuan manusia, kemewahan, dan tentunya juga hormat. Namun jika kita berhasil untuk menang seperti Yesus, kita tidak akan terjerat kepada penyembahan berhala, yang bisa berbentuk hormat itu sendiri.

Posisi dan kekayaan bukan sesuatu yang salah dan berdosa, namun bisa menjadi jerat yang sangat mematikan ketika kita tidak kuat menanggungnya. Konon seorang raja tua memberi pesan penting kepada anaknya, calon raja muda :"Kedudukan dan kekayaan  itu sesuatu yang berbahaya, semakin kita dipercayakan posisi dan kekayaan, semakin banyak kita dituntut bertanggung jawab." Saya percaya pesan itupun masih berlaku bagi kita semua, anak-anak Raja segala raja, semakin kita dipakai dan diberkati Tuhan, semakin besar tanggung jawab kita dihadapkan Tuhan. Jangan  sampai posisi dan kekayaan itu menjadi binatang buas yang menerkam kita, itu harus ditundukkan dibawah kuasa Roh Kudus, bukan kita yang tunduk kepada kekayaan.

Bilamanakah kekayaan dan kemegahannya menjadi tuhan atas kita? Lihat perkataan iblis yang ditulis di Injil Matius ketika kita "sujud menyembah aku(iblis)" Kata sujud artinya bertekuk lutut, dikuasai, diperhamba, dan tidak berdaya, itulah arti "sujud" dan dalam keadaan seperti itu, kemudian kita "menyembah" kekayaan itu sendiri, membuat dia sebagai tuhan dimana tanpa-nya kita tidak bisa hidup , sehingga habis habisan kita akan pertahankan kekayaaan tersebut. Kekayaan itu tidak salah, semua orang membutuhkannya, bahkan jika kita pergunakan dengan bijaksana, kita akan dibantu dan diperingan olehnya, namun ketika kita yang sujud kepadanya, sebenarnya itulah yang sedang disembah, bukan sekedar kekayaan semata.

Berhati-hatilah pada posisi dan kekayaan
Bileam didalam Kitab Bilangan 22-24 dikenal sebagai seorang nabi Tuhan yang perkataannya sangat diperhitungkan bukan hanya dihadapan manusia, namun terlebih dihadapan Tuhan, Nlak, raja Moab, telah berusaha untuk mengupah bileam untuk melanggar kebenaran Firman Tuhan dengan menyumpahi barisan rakyat israel yang sudah diberkati Tuhan. Tergoda karena "upah" yang begitu besar, Nileam telah berulang kali mencoba menghianati Tuhannya yang sudah dia layani seumur hidupnya. Pda Akhirnya, saat matinya Bileam dikenal sebagai "tukang tenung". sekalipun sesungguhnya dia adalah "abdi Allah yang diurapi". Semua itu terjadi karena dia telah sujud lalu menyembah kekayaan yang kemudian menjadi tuhannya.


Popular Posts

Powered by Blogger.